Anggaran Kartu Prakerja Terserap Rp 9,85 T untuk 2,7 Juta Peserta

Anggaran kartu prakerja berasal dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Agatha Olivia Victoria
10 Mei 2021, 16:47
kartu prakerja, anggaran
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Warga penerima manfaat menunjukkan Kartu Prakerja miliknya usai bertemu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (15/12/2020).

Kementerian Keuangan mencatat realisasi anggaran kartu prakerja mencapai Rp 9,85 triliun yang disalurkan kepada 2,77 juta peserta hingga 30 April 2021. Dana yang disalurkan ini mencapai 49,25% dari pagu Rp 20 triliun.

"Anggaran kartu prakerja memang meningkat dua kali lipat pada 2021 dari semula Rp 10 triliun," tulis Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu dalam akun Twitter resminya, Senin (10/5).

Peningkatan anggaran program kartu prakerja bersumber dari realokasi dan refocusing anggaran di setiap kementerian/lembaga. Melalui dana tersebut, pemerintah dapat menargetkan jumlah peserta yang lebih banyak dari tahun sebelumnya sebesar 5,6 juta.

Besaran uang yang diterima peserta kartu prakerja yakni Rp 3.550.000 per orang. Dana tersebut meliputi biaya pelatihan Rp 1 juta, insentif pasca pelatihan Rp 600 ribu per bulan selama empat bulan, dan insentif pengisian survei Rp 50 ribu per survei sebanyak tiga kali.

Anggaran kartu prakerja berasal dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang realisasinya telah mencapai Rp 155,6 triliun hingga 30 April 2021. Capaian tersebut setara dengan 22,3% dari target yang telah dicanangkan tahun ini yakni Rp 699,43 triliun.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan, program kartu prakerja sejatinya terbuka bagi siapa saja. “Ini program untuk semuanya. Siapa pun boleh ikut, yang lulus SMA, SMK, lulusan perguruan tinggi, yang drop out (DO) pun juga silakan,” kata Jokowi saat memberikan pengarahan kepada penerima Kartu Prakerja di Istana Negara, Jakarta, pertengahan Maret lalu.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, pemerintah memprioritaskan program ini bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. “Saat ini memang diberi prioritas, yang diutamakan adalah yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK)," ujarnya.

Hingga saat ini telah ada 55 juta orang yang mendaftar kartu prakerja. Namun hingga Maret 2021, jumlah penerima manfaat kartu prakerja hanya 6,7 juta orang. "Artinya peminatnya sangat banyak sekali. Memang belum tertampun semua," katanya.

Bagi mereka yang telah menerima benefit dari Program Kartu Prakerja, Jokowi mengingatkan untuk terus meningkatkan kemampuan. Sebab, saat ini merupakan zaman penuh kompetisi serta terjadi perubahan yang sangat cepat. "Ini kalau skill kita setiap hari tidak kita perbaiki, hilang kita. Tau-tau 'Kok saya kehilangan pekerjaan?' Karena yang lain memperbaiki keterampilan, kita tidak," katanya.



Jokowi menyebut, ada 1.700 pelatihan yang disediakan oleh 165 lembaga pelatihan mitra kartu prakerja. Perserta pun bisa bebas memilih pelatihan yang diinginkan.

Adapun, pelatihan yang paling diminati peserta kartu prakerja adalah pemasaran daring, makanan dan minuman, IT, urusan perkantoran, dan kewirausahaan. Menurutnya, pelatihan menjadi sangat penting untuk memasuki dunia kerja maupun dunia usaha. Jokowi yang merpakan pengusaha juga memulai karier dengan mengikuti pelatihan selama satu minggu.

Dengan mengikuti pelatihan, kemampuan akan meningkat sehingga ada berbagai peluang yang bisa diperoleh. "Pengalaman saya seperti itu, tidak ada kata berhenti yang namanya belajar," ujar dia.

Advertisement
Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait