Bertahan di Tengah Pandemi, Anak Usaha Garuda Gandeng Kemenhan dan TNI

Garuda Maintenance Facility atau GMFI mengembangkan bisnis yang tak hanya terkait penerbangan komersial.
Image title
20 Agustus 2021, 17:22
garuda, TNI, pandemi
Dokumentasi GMFI
Anak usaha Garuda, GMFI, mendapatkan beberapa proyek dari Kementerian Pertahanan dan TNI.

Perusahaan yang bergerak di bengkel pesawat, PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI), punya strategi khusus di tengah bisnis penerbangan yang lesu selama pandemi Covid-19. Salah satunya dengan bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Udara dalam pemeliharaan pesawat.

"Sebagai strategi untuk bertahan, GMF memang masuk ke industri pertahanan bekerja sama untuk mendapatkan kontrak langsung dengan Kementerian Pertahanan dan ada yang kontrak dengan TNI AU," kata Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi dalam konferensi pers virtual, Jumat (20/8).

Untuk kontrak dengan Kementerian Pertahanan, GMF memodifikasi center wing box pada pesawat Hercules C-130. Tahun ini, GMF akan memodifikasi delapan pesawat yang dimulai Desember 2021. "Nominal kontrak US$ 80 juta (Rp 1,16 triliun, dengan asumsi kurs Rp 14.500) dan itu sangat kontribusinya sangat besar untuk GMF," kata Andi.

GMF juga mendapatkan proyek pemeliharaan beberapa mesin jet CFM56 DES3 milik TNI AU. Selain itu GMF mendapatkan proyek dukungan untuk layanan komponen dan material dalam pemeriksaan pesawat-pesawat jenis 737 milik TNI AU. "Kami juga mendapatkan kontrak dari Sekretaris Negara untuk perawatan pesawat kepresidenan," kata Andi.

Direktur Keuangan GMF Edward Okky Avianto mengatakan dengan strategi tersebut, anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, menargetkan mampu mengantongi laba sebelum pajak (EBITDA) positif US$ 4 juta atau setara Rp 58 miliar. Proyeksi tersebut dengan asumsi kondisi penyebaran Covid-19 seperti hari ini.

"Proyeksi keuangan itu masih sangat dinamis. Kalau kami melihat pandemi ini, kan selalu ada turun-naiknya terutama kaitannya dengan keterbatasan penumpang untuk melakukan penerbangan," kata Edward.



GMF pada tahun ini menganggarkan biaya belanja modal alias capital expenditure (capex) senilai US$ 5 juta. Nilai ini terbilang kecil karena GMF mengutamakan realisasi capex yang terkait dengan diversifikasi produk, terutama untuk memperbesar segmentasi di sisi industri pertahanan.

Sehingga, fokus bisnis yang digarap GMF ke depannya adalah bisnis yang tidak hanya berkaitan dengan komersial aviasi. "Kami akan coba fokuskan pertumbuhan bisnisnya ke arah situ," kata Edward.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait