Sri Mulyani Ungkap Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Bisa Capai 4,5%

Sri Mulyani juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini akan mencapai 4%.
Image title
25 Oktober 2021, 17:58
Sri mulyani, pertumbuhan ekonomi, ekspor
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Warga memancing dengan latar belakang tumpukan peti kemas di New Priok Container Terminal One, Jakarta, Minggu (17/10/2021).

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2021 diperkirakan akan berlanjut sekalipun lebih lambat dari kuartal sebelumnya akibat pandemi Covid-19 yang masih berlanjut. Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% pada kuartal ketiga tahun ini.

"Kinerja ekonomi kita dengan berbagai perbaikan memberikan suatu optimisme untuk merevisi kuartal ketiga, outlook ekonomi periode Juli-September akan membaik menjadi 4,5%," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN Kita edisi Oktober 2021, Senin (25/10).

Proyeksi tersebut masih berada dalam kisaran prediksi bulan lalu, yakni 4%-5%. Saat itu Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan positif akan terjadi pada seluruh komponen tetapi cenderung melambat.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut gelombang Covid-19 varian Delta pada Juli lalu memukul sektor ekonomi. Kondisi ini yang memicu kinerja ekonomi sepanjang Juli-September jatuh dibandingkan pertumbuhan 7,07% pada kuartal sebelumnya.

"Memang dibandingkan kuartal kedua turun, tapi kalau dilihat kuartal ketiga kita mengalami varian Delta yang sangat tinggi yang menyebabkan adanya koreksi pada pemulihan ekonomi, tapi koreksinya kita lihat tidak akan terlalu dalam," kata Sri Mulyani.

Konsumsi domestik sempat tertahan sepanjang kuartal ketiga akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat dan PPKM Level 1-4 sejak awal Juli. Seiring kasus melandai, pemerintah pun melonggarkan PPKM dan meningkatkan mobilitas masyarakat di luar ruangan dalam dua bulan terakhir.

Kinerja ekspor dalam beberapa bulan terakhir dinilai dapat mengkompensasi perlambatan konsumsi rumah tangga pada kuartal ketiga ini. Dalam outlooknya bulan lalu, ekspor diprediksi kembali tumbuh dua digit di kisaran 20%-22,4%.

Selain itu, Sri Mulyani juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4% sepanjang tahun. Kinerja tahun ini bisa dipastikan lebih baik dibandingkan kontraksi 2,07% pada tahun lalu.  Namun, pertumbuhan yang tidak signifikan tampaknya dipengaruhi kinerja kuartal I yang masih terkontraksi serta kuartal ketiga yang melambat akibat varian Delta.

"Kinerja kuartal IV tetap akan berpotensi rebound namun mungkin lebih normal, dan tentu dengan reballancing di berbagai kegiatan ekonomi seperti di Cina, AS dan Eopa akan mempengaruhi proyeksi kuartal keempat, termasuk tahun depan," kata Sri Mulyani.



Target pertumbuhan tahunan yang disampaikan Sri Mulyani itu tampaknya jauh lebih optimistis dibandingkan proyeksi yang dibuat Dana Moneter Internasional (IMF) awal bulan ini. IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 3,2%, lebih rendah dari 3,9%% pada laporan Juli 2021.

IMF juga memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,9% tahun depan, tidak berubah dari laporan sebelumnya.

IMF juga memangkas pertumbuhan negara di kawasan ASEAN lain. Thailand yang semula diperkirakan akan tumbuh 2,1% tahun ini diperkirakan hanya mampu tumbuh 1%. Pertumbuhan ekonomi Malaysia juga dipangkas dari 4,7% menjadi 3,5% dan Filipina dari 5,4% menjadi 3,2%.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait