Pemerintah ingin harga gula turun dari kisaran Rp 14 ribu menjadi Rp 12.500 per kilogram.
Gula Pasir
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Pemerintah memastikan harga eceran tertinggi (HET) gula sebesar Rp 12.500 per kilogram mulai berlaku selambatnya pada bulan April 2017. Pabrik gula rafinasi pun diminta memasok konsumen rumah tangga.

“Gula kami sudah bertemu lagi dengan distributor, paling lambat bulan April harga Rp 12.500 itu sudah jalan, lewat itu jauh akan kita periksa,” Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Rabu (22/2).

Sebelumnya, pemerintah telah melakukan penugasan kepada 8 dari 11 Pabrik Gula rafinasi dan para distributor untuk mendistribusikan gula kristal putih ke pasar konsumsi dengan harga eceran tertinggi Rp 12.500 per kilogram.

(Baca juga:  Harga Anjlok, Jokowi Minta Para Menteri Siapkan Tim Penyerap Gabah)

Dengan demikian, pabrik gula dan distributor gula rafinasi punya peran baru. Mereka tak hanya mengolah gula mentah menjadi gula rafinasi untuk bahan baku industri makanan dan minuman, tetapi juga memasok kebutuhan konsumen rumah tangga.

Hanya saja, Enggar belum bisa menjamin keseragaman harga berlaku di seluruh daerah karena ada kendala logistik. Maka, ia akan memberi toleransi bagi distributor untuk mematok harga yang lebih tinggi di daerah terpencil, asal selisihnya tak terlalu besar.

“Boleh lah plus-plus sedikit tapi tidak boleh sampai 20 ribu. Kita akan panggil usut distributornya,” katanya.

(Baca juga:  2050, Populasi Kakap, Tuna dan Kepiting Bisa Bernilai Rp 50 Triliun)

Menurut data Kementerian Perdagangan, pada Januari 2017 harga rata-rata nasional gula sebesar Rp 14.087 per kilogram atau turun 0,33 persen dibandingkan harga rata-rata bulan Desember 2016 sebesar Rp 14.113 per kilogram.

Sedangkan di beberapa daerah harga rata-rata gula di beberapa daerah berada di kisaran Rp 12.933 per kilogram di Yogyakarta sampai yang tertinggi Rp 17.000 per kilogram di Tanjung Pinang, Tanjung Selor, dan Manokwari.

Sekedar informasi, Kedelapan perusahaan yang diberikan penugasan oleh Kemendag tersebut saat ini menguasai sekitar 70 persen distribusi gula nasional yang berasal dari impor raw sugar. Mereka adalah PT Angels Products, PT Citra Gemini Mulia dan PT Duta Sumber Internasional, PT Sarana Manis Multi Pangan, PT Manis Rafinasi, PT Sari Agrotama Persada, PT Sentra Utama Jaya, dan PT Mega Sumber Industri.

(Baca juga:  Bandara Banda dan Food Estate Maluku Masuk Proyek Strategis)

Pada awal tahun ini Kementerian Perdagangan telah menerbitkan ijin impor raw sugar untuk kebutuhan industri kepada 11 perusahaan  sebesar 1,5 juta ton. Ijin impor ini diberikan untuk semester I 2017. Kuota impor ini naik dari tahun 2016 sebanyak 3,22 juta ton. Kenaikan disebabkan oleh penyesuaian dengan proyeksi kebutuhan gula industri tahun 2017 sebesar 3,5 juta ton. 

Muhammad Firman Eko Putra