“Kontribusi industri hasil tembakau cukup tinggi setelah industri makanan dan minuman"
Pabrik rokok
ANTARA FOTO/M. Risyal Hidayat

Kementerian Perindustrian mencatat sepanjang periode 2014-2015 jumlah industri hasil tembakau (IHT) berkurang hingga 100 unit usaha. Namun, berkurangnya jumlah unit usaha dan tenaga kerjanya  tidak berdampak pada kemampuan produksi sektor industri ini.

Pada 2014, ada sekitar 700 unit usaha IHT yang memproduksi 346,3 miliar batang rokok. Setahun kemudian, jumlah industrinya berkurang menjadi 600 unit usaha, tapi produksinya malah naik menjadi 348,1 miliar batang. Tahun lalu total produksi rokok nasional mencapai 350 miliar batang.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan IHT merupakan salah satu sektor strategis domestik yang memiliki daya saing tinggi, tapi selalu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. “Kontribusi industri hasil tembakau cukup tinggi setelah industri makanan dan minuman. Di Jawa Timur, industri ini menjadi unggulan,” kata Airlangga dalam keterangannya saat mengunjungi Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (9/3). 

Airlangga mengatakan sumbangan IHT terhadap perekonomian nasional tergolong luar biasa, baik dari sisi pendapatan negara maupun penyerapan tenaga kerja. Pendapatan negara dari IHT yang berasal dari cukai dan pajak setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. (Baca: Pemerintah Didorong Kenakan Cukai Minuman Ringan dan Kendaraan)

Sepanjang tahun lalu, total nilai cukai yang dibayarkan dari IHT mencapai Rp 138,69 triliun atau 96,65 persen dari total cukai nasional. Sedangkan, serapan tenaga kerjanya mencapai 5,98 juta orang yang terbagi di sektor manufaktur dan distribusi sebanyak 4,28 juta orang, serta di sektor perkebunan sebanyak 1,7 juta orang.

Menurunnya jumlah industri membuat tenaga kerja IHT ikut merosot. “Terjadi penurunan sebesar 3,5 persen dalam lima tahun terakhir atas jumlah pekerja sektor manufaktur rokok dan pada perkebunan tembakau turun sebesar 4,7 persen,” katanya.

Menurut Airlangga, penurunan jumlah industri dan tenaga kerja disebabkan adanya perubahan pasar IHT. Gaya hidup konsumen dalam beberapa tahun terakhir berubah, lebih memperhatikan kesehatan dengan mengkonsumsi rokok berkadar nikotin dan tar rendah.

Akhirnya konsumsi rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) yang produksinya menyerap tenaga kerja banyak, semakin berkurang. Konsumen lebih memilih sigaret kretek mesin (SKM) baik yang reguler maupun ringan (mild). Produksi rokok ini lebih banyak mengandalkan mesin dan tidak membutuhkan pekerja yang banyak.

Data Kementerian Perindustrian mencatat pada 2016 pangsa pasar rokok jenis SKM sangat mendominasi, hingga 72,07 persen. Adapun porsi SKT hanya sebesar 20,23 persen, dan Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 5,43 persen. Sisanya, produk rokok Klobot dan Klembak menyan sebesar 2,27 persen.

Meski kontribusi industri hasil tembakau sangat besar dan mencakup hajat hidup jutaan masyarakat Indonesia, kenyataannya banyak pihak yang menentang. Bahkan, ada desakan agar pemerintah membatasi produksi rokok yang dinilai sudah sangat tinggi saat ini. (Baca: Belanja Iklan 2016 Melonjak 14 Persen Berkat Perindo dan Rokok)

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan penyusunan aturan dan kebijakan soal tembakau harus sangat hati-hati, karena berdampak pada hajat hidup orang banyak. Ia menilai penerapan kuota harus realistis sesuai kebutuhan industri rokok dalam negeri.

“Di bawah MPSI saja ada 40.800 pekerja, belum dari yang lain. Ini menyangkut perut sekian ribu orang dan keluarganya. Ini yang kadang-kadang pembahasannya tidak seimbang,” katanya.

Tingginya produksi rokok, juga sejalan dengan impor tembakau dari luar negeri. Pemerintah juga tidak bisa begitu saja menutup keran impor komoditas tersebut, karena industri pasti akan kesulitan mendapat pasokan. Kebijakan yang diambil pemerintah seharusnya fokus meningkatkan produksi tembakau dalam negeri agar bisa memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku industri rokok.

Sekedar informasi, Paguyuban MPSI merupakan wadah dari 38 perusahaan produsen SKT yang bermitra dengan PT. Sampoerna di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Produksinya telah mencapai 15 miliar batang per tahun dengan mempekerjakan 40.000 orang pekerja. MPSI tidak menutup kemungkinan untuk bermitra dengan perusahaan lain.