Pertamina hanya membagikan dividen 29 persen dari hasil keuntungan tahun lalu. Sebelumnya porsi dividen yang dibagikan mencapai 35 persen.
Pertamina
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Pertamina (Persero) mengurangi porsi dividen 2016 yang dibagikan kepada pemerintah tahun ini. Padahal perusahaan migas pelat merah telah mencetak rekor pencapaian laba tertinggi sepanjang 59 tahun pada 2016.

Perseroan hanya membagikan dividen Rp 12,1 triliun, atau 29 persen dari laba bersih tahun lalu Rp 41,8 Triliun. Persentasenya turun dibandingkan tahun sebelumnya. Porsi dividen yang dibagikan tahun lalu mencapai 35 persen, atau Rp 6,8 triliun dari laba bersih 2015 sebesar Rp 19,4 triliun.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Rekor Sejak 59 Tahun Berdiri, Pertamina Cetak Laba Rp 42 Triliun)

Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman beralasan penurunan persentase dividen ini disebabkan banyaknya proyek-proyek migas perseroan yang membutuhkan investasi besar. Salah satunya investasi pengeboran delapan sumur Blok Mahakam sebesar Rp 533 miliar. Pertamina juga membutuhkan dana investasi lainnya untuk menggarap proyek hilir seperti pembangunan kilang baru dan revitalisasi kilang (RDMP).

"Memang sebetulnya hal ini dilakukan agar kami memiliki kawasan yang membuat kami dapat melakukan investasi. Soalnya kami perlu pendanaan untuk proyek," kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/3). (Baca: Pertamina Batal Mengebor 11 Sumur di Blok Mahakam Tahun Ini)

Arief menjelaskan tahun ini Pertamina menyiapkan belanja modal sebesar US$ 5-6 miliar atau sekitar Rp 80 triliun. Adapun 70 persen dari jumlah belanja modal ini dipergunakan untuk menunjang aktivitas hulu migas Pertamina, sisanya untuk hilir migas. 

Pertamina juga menargetkan tahun ini bisa melakukan efisiensi biaya diluar belanja modal, hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13 triliun. Angka ini menurun dari realisasi efisiensi yang dilakukan Pertamina pada tahun lalu di mana Pertamina berhasil melakukan penghematan hingga US$ 2,7 miliar. 

"Memang enggak kayak tahun lalu, apalagi saat ini harga minyak dunia relatif stabil. Kami cukup optimistis efisiensi di luar budget ini bisa tercapai US$ 1 miliar," kata dia. (Baca: Kalahkan Petronas, Laba Pertamina Tembus Rp 40 Triliun)

Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina Elia Massa Malik mengatakan tahun ini pihaknya akan bekerja keras untuk menjaga kinerja dan strategi perusahaan. Terutama dalam menghadapi fluktuasi harga minyak dunia dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang bisa berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Artikel Terkait
“Sehingga ke depan kami bisa memprediksi apakah perlu mengimpor LNG atau tidak," kata Arcandra.
Menurut Dadan Kusdiana, kompensasi 7 tahun ini sesuai dengan UU Migas pasal 39 ayat 1 huruf b.
Salah satu penyebab kenaikan itu adalah Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang sekarang 100% dikelola Pertamina.