"Sudah berlebihan kalau S&P tidak menaikkan. Sudah terlambat enam tahun."
Darmin Nasution
KATADATA | Arief Kamaludin

Indonesia berpeluang mendapatkan peringkat kredit layak investasi atau investment grade dari Standard & Poor's (S&P) dalam waktu dekat ini. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai lembaga rating internasional itu sudah terlambat menaikkan peringkat Indonesia.

Rombongan S&P telah menemui Darmin di kantornya, Rabu (22/3) pagi. Menurut Darmin, S&P memang setiap tahun datang ke Indonesia untuk menemui pejabat pemerintah dan melakukan penilaian terhadap perekonomian negara ini. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Meski begitu, hingga saat ini S&P belum menyematkan peringkat layak investasi kepada Indonesia. Bandingkan dengan dua lembaga pemeringkat lainnya yaitu Moody's Investors Service dan Fitch Ratings, yang sejak lebih setahun terakhir telah memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia.

Karena itu, Darmin menyatakan, sebenarnya tidak ada lagi alasan bagi S&P untuk menyematkan status tersebut. "Sudah berlebihan kalau S&P tidak menaikkan. Sudah terlambat enam tahun," katanya di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/3).

(Baca: Sri Mulyani: Kondisi Ekonomi Penuhi Syarat Kenaikan Peringkat dari S&P)

Selain Darmin, perwakilan S&P juga akan menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Kamis besok (23/3). Dalam pertemuan dengan S&P, ia bakal memaparkan beberapa hal terkait kondisi makro ekonomi Indonesia, serta kebijakan anggaran baik dari sisi penerimaan maupun belanja negara. Penjelasan tersebut diharapkan bisa menjadi basis bagi S&P untuk menaikkan peringkat Indonesia.

Menurut dia, para pemegang surat utang negara (SUN) Indonesia di London, Inggris juga menantikan kenaikan peringkat Indonesia. “Apalagi, kebijakan fiskal, makro, serta fundamental (ekonomi) telah memenuhi (syarat kenaikan peringkat)," katanya.

(Baca: Indonesia Berpeluang Segera Raih Peringkat Layak Investasi dari S&P)

Sebelumnya, Ekonom Bank Central Asia David Sumual memprediksi, S&P bakal menaikkan peringkat Indonesia pada Mei mendatang. Apalagi, lembaga pemeringkat lainnya, yaitu Moody’s dan Fitch bahkan sudah memberikan proyeksi positif untuk peringkat Indonesia. Artinya, ada peluang kenaikan peringkat Indonesia satu level lagi di atas layak investasi.

“Moody’s dan Fitch sudah memberikan prospek positif, artinya dalam enam bulan, mereka bisa naikkan (lagi), S&P bisa ketinggalan dua notch. Kalau begitu (tidak naikkan), mereka (S&P) bisa dianggap tidak kredibel,” ujar David.

Artikel Terkait
Empat Menteri Koordinator meminta peningkatan anggaran untuk APBN 2018.
Menurut Jaya Suprana, infografik ini bukan hanya terpanjang, melainkan juga yang pertama atau pelopor dalam membuat sejarah dalam bentuk infografik.
“Dengan investment grade dan suplai investasi yang masuk maka kami tekan imbal hasil SUN,” kata Sri Mulyani Indrawati.