Konsumen Indonesia tak lagi sekedar membeli gawai atau pakaian, melainkan aneka kebutuhan sehari-hari melalui internet.
eCommerce
Seorang pria berbelanja barang elektronik di salah satu situs on line, Kamis (17/12). Donang Wahyu|KATADATA

Konsultan bisnis global Price Waterhouse Coopers (PwC) baru saja merilis laporan “Total Retail 2017”. Hasilnya, dari 500 konsumen online di Indonesia, 36 persen di antaranya telah berbelanja bulanan melalui internet.

Jumlah tersebut lebih tinggi ketimbang rata-rata global sebesar 34 persen. Soal kegemaran belanja bulanan secara online, peringkat Indonesia juga tertinggi di kawasan Asia Tenggara, mengalahkan Singapura dan Vietnam dengan 34 persen dan Thailand 33 persen.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Kepercayaan diri konsumen online ini disebabkan populasi anak muda yang besar dan penetrasi internet yang tinggi disebabkan oleh penjualan smartphone,” kata Retail & Consumer Leader PwC Indonesia Ade Elimin saat mempresentasikan Total Retail Survey 2017 di Hotel Fermont, Rabu (5/4).

(Baca juga: Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Merambah Dunia Maya pada 2020)

Pergeseran perilaku konsumen ini membuat pengusaha harus menyesuaikan diri. Sebab, konsumen tak lagi sekedar membeli gawai atau pakaian melainkan aneka produk kebutuhan sehari-hari di toko online. “Maka masuk akal jika pemilik jaringan swalayan seperti Matahari atau Alfamart turut dalam gelombang e-commerce,”  kata Ade.

Ade mengatakan penetrasi internet di Asia Tenggara, terutama Indonesia terbilang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Di Asia Tenggara saat ini terdapat 250 juta pengguna aktif internet, hampir sepertiganya adalah penduduk Indonesia.

Diperkirakan pada 2020 jumlah ini membengkak hingga 350 juta di Asia Tenggara dan 136 juta dari Indonesia sendiri. “Atas dasar itu, mau tidak mau ceruk pasar tersebut mesti digarap oleh pada pengusaha retail jika ingin survive,” ujarnya.

Dalam survei ini, sebanyak 42 persen responden juga menyatakan bahwa mereka kian bergantung pada smartphone untuk berbelanja. Hal ini didorong oleh berbagai insentif yang diperoleh, seperti efisiensi dan faktor harga yang kompetitif. Buktinya, sebanyak 36 persen responden bilang harga jadi faktor utama berbelanja online. Sementara 30 persen lainnya menyebut kemudahan memilih barang dan berbelanja jadi motivator utamanya.

(Baca juga: Pemerintah Beri Perlindungan Hukum Bagi Pengusaha e-Commerce)

Bagi para pengusaha retail yang hendak melebarkan sayap bisnisnya ke e-commerce, PwC memberikan beberapa saran investasi apa yang baiknya dilakukan. Antara lain, berinvestasi di situs mobile lebih baik ketimbang aplikasi. Selain itu, perusahaaan juga harus berinvestasi pada sumber daya manusia yang bisa mengikuti perkembangan digital dan beriklan melalui influencer di media sosial.

Total Retail Survey 2017 dilakukan di 29 negara dengan 24.471 responden. Di Indonesia, ada 500 konsumen online yang dipilih secara acak sebagai responden. Survei ini telah dilakukan selama 10 tahun sejak 2007.

Muhammad Firman Eko Putra
Artikel Terkait
Pertama, ketidakpastian regulasi. Kedua, kurangnya koordinasi di antara kementerian dan lembaga pemerintah lainnya. Ketiga, pengelolaan program 35.000 Megawatt (MW).
Berdasarkan survei PwC, hampir separuh bankir yang jadi responden tidak mengharapkan pertumbuhan kantor cabang bank. Bahkan, 12 persen di antaranya ingin jumlah kantor cabang berkurang.
Sebanyak 69 persen bankir yang menjadi responden memperkirakan rasio kredit macet (NPL) akan turun. “Namun, NPL tetap dianggap sebagai tantangan terbesar bagi pertumbuhan kredit.”