Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan selama ini model lelang blok migas di Indonesia seperti pengumuman pembukaan mahasiswa baru.
Migas
Dok. Chevron

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan untuk mengganti strategi lelang blok minyak dan gas bumi (migas). Jika sebelumnya proses lelang hanya menunggu peserta, kali ini pemerintah akan mencoba mengundang dan mendatangi investor untuk mempresentasikan proses lelang.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan selama ini model lelang blok migas di Indonesia seperti pengumuman pembukaan mahasiswa baru. Pemerintah hanya menampung pendaftar yang masuk tanpa mengundang investor potensial dan menjelaskan lebih rinci mengenai proses lelangnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Alhasil, setiap lelang blok migas di Indonesia sepi dari peminat. "Mungkin barangnya bagus tapi kurang bisa jualan, jadi sekarang dicoba cara lain," kata Jonan usai bertemu dengan delegasi dari India di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (20/4). (Baca: Setahun Terakhir, Pemerintah Gagal Gaet Investor Garap Blok Migas)

Sebagai gambaran, sejak lelang tahun 2014, pemerintah gagal menggaet investor dalam lelang blok migas. Dari 21 blok migas yang dilelang selama 2014, hanya 11 yang laku. Sementara tahun 2015, tidak ada satu pun blok yang laku dari lelang delapan blok konvensional.

Dalam lelang tahun ini dan ke depannya, pemerintah akan mencoba mengunjungi investor yang potensial. Salah satunya adalah India. Rencananya, Jonan akan mengutus Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I.G.N Wiratmaja Puja untuk menemui pemerintah India. 

Tidak hanya Dirjen Migas, Jonan juga meminta perwakilan dari perusahaan BUMN yang bergerak di sektor energi seperti PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGN) ikut mengunjungi India. Rencananya tim dari Indonesia akan berangkat ke India mulai minggu depan. "Coba bicara  antaroperator di sana, supaya ada kerjasama," kata Jonan.

Grafik: Penawaran dan Peminat Lelang Blok Migas 2009-2017
Penawaran dan Peminat Lelang Blok Migas 2009-2017

Di tempat yang sama, Minister of State for Power, Coal, New & Renewable Energy and Mines India Piyush Goyal mengatakan letertarikannya mengikuti lelang migas di Indonesia. Apalagi pemerintah dari kedua negara sudah beberapa kali berdialog terkait kerjasama investasi, termasuk di sektor hulu migas. 

Sayangnya Piyush masih belum mau menyebutkan secara spesifik blok migas yang diincar India.  "Banyak kesempatan di Indonesia untuk berinvestasi, seperti greenfield dan refinery," kata dia. (Baca: Ingin Gaet Investor, Pemerintah Tiru Meksiko Gratiskan Data Migas)

Tahun ini, rencananya Kementerian ESDM akan melelang 15 blok migas tahun ini. Perinciannya 10 blok konvensional dan lima blok nonkonvensional. Lelang akan dibuka pada perhelatan tahunan Indonesian Petroleum Association (IPA) bulan depan. Adapun mekanisme pelelangan blok migas konvensional terdiri penawaran reguler dan penawaran langsung.

Penawaran reguler terdiri dari tiga blok yakni Durian di Kepulauan Riau, East Tanimbar di Maluku, dan Memberamo di Papua. Sisanya melalui penawaran langsung, yakni Andaman I dan Andaman II di Aceh, Blok South Tuna di Kepulauan Riau, Blok Merak yang berlokasi diantara Banten dan Lampung, Blok Pekawai di Kalimantan Timur, Blok West Yamdena di Maluku, dan Blok Kasuri III di Papua Barat. 

(Baca: Pemerintah Lelang 15 Blok Migas Pakai Skema Gross Split)

Sementara untuk blok nonkonvensional terdiri dari dua blok shale hidrokarbon dan tiga blok gas metana batubara. Untuk blok shale hidrokarbon terdiri dari Jambi I dan Jambi II di Provinsi Jambi. Lelang jenis blok lainnya yakni Gas Metana Batubara terdiri dari  Raja, Bungawas, dan West Air Komering yang semuanya terletak di Sumatera Selatan. 

Artikel Terkait
“Sehingga ke depan kami bisa memprediksi apakah perlu mengimpor LNG atau tidak," kata Arcandra.
Menurut Dadan Kusdiana, kompensasi 7 tahun ini sesuai dengan UU Migas pasal 39 ayat 1 huruf b.
Salah satu penyebab kenaikan itu adalah Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang sekarang 100% dikelola Pertamina.