Ace Hardware Raup Untung Rp 426 Miliar di Semester I 2018

Penulis: Ekarina

Senin 30/7/2018, 16.11 WIB

Hingga Juni 2018, Ace Hardware membuka 10 unit gerai di sejumlah kota, seperti Bandung, Jakarta, Tangerang, Malang dan Karawang.

Ace Hardware
Ace Hardware
Ace Hardware

Emiten retail perlengkapan rumah tangga PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) mencatat laba bersih Rp 426 miliar, naik 29,8% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 328 miliar. Kenaikan kinerja tersebut antara lain ditopang oleh meningkatnya penjualan serta menurunnya komponen beban.

Mengutip laporan keungan perusahaan, sepanjang semester I 2018 Ace Hardware membukukan pendapatan Rp 3,33 triliun, tumbuh 21,9% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,73 triliun.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Corporate Secretary Ace Hardware Indonesi Helen Tanzil, mengatakan kenaikan pendapatan perusahaan pada semester I lalu disebabkan oleh meningkatnya volume penjualan beberapa produk perseroan. "Growth driver mayoritas masih dari volume penjualan yang sudah terjadi terutama sejak tahun lalu," kata Helen kepada Katadata, Senin (30/7).

(Baca : Anak Usaha Grup Lippo dan Mitra Adiperkasa Gencar Cari Dana Eksternal)

Peningkatan volume penjualan yang perusahaan catatkan juga tak lepas dari ekspansi gerai yang dilakukan sepanjang semester I lalu. Menurutnya, Ace Hardware telah membuka sebanyak 10 unit gerai antara lain di Bandung, Tangerang, Surabaya, Karawang, Pekanbaru, Jakarta, Malang, Samarinda. 

Dia pun mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semester I lalu belum memberi tekanan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Sehingga perseroan mengklaim tidak melakukan penyesuaian harga terhadap beberapa produknya yang dijual untuk mengkompensasi kenaikan biaya.

"Sepanjang depresiasi rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba dan besar, maka kami tidak perlu menaikan harga jual," ujarnya.

Sementara itu, perseroan pada semester I 2018 juga diketahui mampu mengurangi beban lain-lain dari Rp 11,6 miliar menjadi sekitar Rp 647 juta sehingga perolehanan laba usaha perseroan terkerek naik 24% menjadi Rp 540 miliar dibanding perolehan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 408 miliar.

Di samping itu, kendati Ace Hardware mencatat kenaikan rugi entitas asosiasi 41,5% dan kenaikan beban keuangan 189% namun perusahan masih mampu mencetak laba sebelum pajak sebesar Rp 533 miliar atau naik 31,9% dari semester I tahun lalu senilai Rp 404 miliar serta laba bersih Rp 426 miliar.

Atas kondisi tersebut, Helen mengatakan bahwa realisasi kenaikan komponen beban keuangan yang besar antara lain berasal dari transaksi pelanggan yang melakukan pembayaran secara elektronik. Dengan demikian, dia menilai kenaikan tersebut wajar karena penjualan saat itu juga meningkat.

"Selain itu, ACES juga tidak memiliki utang bank, sehingga komponen beban tersebut bukan merupakan beban bunga bank," ujarnya.

(Baca : Matahari Turunkan Harga Ribuan Barang dan Perkecil Gerai Hypermart)

Sebelumnya, dua perusahaan retail berlomba mencari pendanaan eksternal untuk membuayai ekspansi. PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), perusahaan retail milik Lippo Grup sekaligus pemilik jaringan gerai Hypermart, belum lama ini melakukan penawaran umum terbatas V (PUT V) dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Dalam aksi korporasinya itu, perseroan akan menawarkan 2,15 miliar saham atau setara 28,57% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan nilai nominal saham sebesar Rp 50 per saham. Perusahaan mematok harga pelaksanaan PUT V ini sebesar Rp 375 per saham. Dengan demikian, melalui PUT V ini MPPA berharap bisa memperoleh dana hingga Rp 806,69 miliar.

Manajemen perseroan menyatakan, sebanyak 93,7% hasil dana rights issue setelah dikurangi biaya-biaya rencananya akan digunakan untuk membiayai modal kerja, berupa pembayaran pemasok atas pembelian barang dagangan. "Sementara 6,3% sisa dana PUT V akan digunakan untuk membayar sebagian pokok utang kepada Bank of China Limited (BoC)," kata manajemen perusahaan sebagaimana yang dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

(Baca : Harga Produk Retail Bisa Naik 5% Akibat Pelemahan Rupiah)

Perusahaan retail lain yang juga tengah membidik dana segar dari pasar modal juga datang dari PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA). Anak usaha PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang bergerak bisnis gerai retail olahraga tersebut pagi tadi resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/7).

Sekretaris Perusahaan MAPA Ratih D Gianda mengatakan dengan aksi korporasinya ini perusahaan berharap dapat memperkuat struktur permodalan dari dana hasil IPO, meningkatkan brand equity sekaligus juga mendorong peningkatan kinerja bisnis ke depan. Terlebih dengan potensi meningkatnya jumlah kelas menengah Indonesia serta kebutuhan gaya hidup, mendorong perusahaan untuk terus ekspansi, baik dengan penambahan merek maupun portofolio perusahaan.