IHSG Masih Sulit Bangkit, Analis Rekomendasikan Saham Konsumer

Analis merekomendasikan investor untuk memantau pergerakan saham-saham di sektor konsumen di tengah potensi masih memerahnya IHSG.
Agustiyanti
7 Juli 2022, 07:45
IHSG, IHSG hari ini
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.
Ilustrasi. IHSG pada perdagangan kemarin ditutup turun 0,85%.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih sulit untuk bangkit meski telah turun lebih dari 5% sejak pekan lalu. Analis merekomendasikan investor untuk memantau pergerakan saham-saham di sektor konsumen. 

Analis MNC Asset Management Edwin Sebayang menjelaskan, penurunan harga komoditas dan kurs rupiah yang jatuh ke level Rp 15.000 per dolar AS memperberat gerak langkah IHSG untuk bangkit pada hari ini. 

Harga minyak turun 1,15%, emas 1,57%, nikel 4,5%, dan timah 2,25%. Penurunan harga komoditas juga disambut dengan penurunan EIDO sebesar 0,18%. Indeks EIDO merupakan mutual fund berisikan saham-saham di Indonesia yang dikelola oleh Morgan Stanley di bursa Amerika Serikat . 

"Rupiah yang kembali terjungkal dilevel 15,000 dan kembali naiknya yield obligasi AS memperberat gerak langkah IHSG untuk rebound Kamis ini walaupun indeks Dow Jones dan harga CPO naik," ujar Edwin dalam risetnya. 

Advertisement

Edwin merekomendasikan investor untuk membeli saham PT Indofood CBP Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk  (CPIN), PT Aneka Gas Industri Tbk (AGII), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). 

Di sisi lain, Edwin merekomendasikan investor untuk menjual saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Medco Internasional Tbk (MEDC), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk, dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA). 

IHSG pada perdagangan kemarin ditutup turun 0,85% ke level 6.646. Sementara bursa saham Wall Street bergerak bervariasi pada perdagangan tadi malam. Indeks DJIA dan S&P 500 naik masing-masing 0,23% dan 0,36%, sedangkan Nasdaq turun 0,44%. 

Pasar saat ini masih dihantui oleh kekhawatiran langkah agresif The Fed menaikkan suku bunga yang dapat mendorong ekonomi Amerika Serikat masuk ke jurang resesi. 

Para Pejabat The Federal Reserve pada pertemuan Juni menekankan perlunya memerangi inflasi, bahkan jika itu berarti memperlambat ekonomi yang sudah muncul di ambang resesi.  Berdasarkan risalah rapat dewan gubernur bulan lalu yang dirilis Rabu (6/7),  para anggota melihat kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps hingga 75 bps pada Juli, menyusul kenaikan 75 bps pada bulan lalu. 

Editor: agung
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait