Beroperasi Lagi, Industri Alas Kaki Butuh Bantuan Modal Kerja Rp 25 T

Industri alas kaki membutuhkan modal kerja mencapai Rp 24,7 triliun untuk dapat beroperasi lagi seiring pelonggaran PSBB.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
3 Juli 2020, 17:06
industri sepatu, alas kaki, modal kerja, bantuan modal kerja, pandemi corona.
ANTARA FOTO/Siswowidodo
Ilustrasi. Industri alas kaki menjadi salah satu yang terpukul akibat pandemi corona.

Asosiasi Persepatuan Indonesia meminta bantuan modal kerja kepada pemerintah sebesar Rp 24,7 triliun untuk membiayai operasional selama tiga bulan ke depan. Industri alas kali ini merupakan salah satu yang paling terpukul akibat pandemi corona. 

Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakri mengatakan, pihaknya telah menyampaikan kebutuhan modal kerja tersebut kepada Asosiasi Pengusaha Indonesia untuk disampaikan kembali kepada pemerintah. Dengan bantuan tersebut, industri padat karya ini diharapkan dapat kembali beroperasi dan menyerap tenaga kerja. 

"Pada prinsipnya sepanjang tiga bulan kemarin, kami masih harus membayar gaji karyawan tanpa ada pemasukan. Sekarang untuk mulai kembali bekerja, kami membutuhkan bantuan modal kerja," kata Firman kepada Katadata.co.id, Jumat (3/7).

Pemasukan yang minim dan biaya operasional yang terus berjalan membuat daya tahan perusahaan kian tipis. Meski berhenti berproduksi, industri tetap harus membayar sejumlah biaya, seperti iuran BPJS Kesehatan dan Ketenegakerjaan karyawan, tagihan listik, air, hingga telepon. 

(Baca: Erick Thohir Proyeksi Dividen BUMN 2021 Turun Menjadi Rp 15 Triliun)

Firman pun optimistis bantuan tersebut dapat  mampu menggerakkan kembali industri padat karya jika segera direalisasikan. Industri alas kaki saat ini juga tengah bersiap-siap untuk kembali produksi lantaran adanya kebijakan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar. Permintaan mulai tumbuh meski tipis. 

"Sekarang sudah muncul permintaan untuk ekspor maupun domestik dengan adanya pelonggaran PSBB dan pasar sudah mulai tergerak. Ketika  sudah ada pergerakan barang di retail, maka tentunya akan mendorong industri untuk menyuplai  retail," kata dia.

Bantuan modal kerja yang diusulkan industri alas kaki sebelumnya sudah disampaikan oleh Apindo kepada pemerintah bersama dengan beberapa industri lain seperti tekstil dan produk tekstil, industri transportasi darat, makanan dan minuman serta hotel dan restoran. Dari industri-industri yang mengusulkan bantuan, Apindo memperkirakan jumlah bantuan modal kerja yang dibutuhkan mencapai Rp 600 triliun selama setahun kerja.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani beraharap, pemerintah dapat segera merealisasikan bantuan itu dengan bunga di bawah 10% atau single digit. "Kami hitung bersama dengan Kadin untuk sektor tekstil, transportasi, dan sektor manufaktur lainnya itu membutuhkan bantuan modal usaha sebesar Rp 600 triliun untuk setahun," ujar Hariyadi di Jakarta, Kamis (2/7).

(Baca: Pengusaha Minta Bantuan Modal Kerja ke Pemerintah Rp 600 T)

Dengan kondisi pandemi saat ini, menurut dia, perbankan diharapkan dapat memberikan bunga yang lebih rendah kepada pengusaha. Untuk itu, dibutuhkan skema bantuan pemerintah, seperti yang dilakukan untuk segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. 

Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan Anto Prabowo mengatakan, pihaknya telah mendata sektor-sektor usaha yang membutuhkan modal kerja. Bantuan modal kerja tersebut terutama akan diberikan bagi UMKM atau perusahaan padat karya yang terancam melakukan pemutusan hubungan kerja jika tak memperoleh bantuan kredit. 

Meski demikian, penyaluran kredit  juga akan mempertimbangkan kesiapan perusahaan untuk membuka kembali bisnisnya. "Sehingga kami proaktif melakukan pendataan sehingga memang fleksibel dan tentu catatannya sebelum Covid-19 perusahaan tetap baik," kata dia.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait