Ramal Ekonomi Kuartal II Minus 4,3%, Jokowi: Kalau Lockdown Minus 17%

Presiden Joko Widodo menyebut ekonomi pada kuartal II diproyeksi minus hingga 4,3%, lebih rendah dari prediksi sebelumnya yang minus 3,8%.
Dimas Jarot Bayu
15 Juli 2020, 21:50
jokowi, sri mulyani, pertumbuhan ekonomi, resesi ekonomi, ekonomi terkontraksi, ekonomi minus
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/POOL/foc.
Presiden Joko Widodo meminta para gubernur betul-betul mengatur kebijakan dari sisi kesehatan dan ekonomi secara seimbang untuk meminimalisasi dampak pandemi corona.

Pemerintah kembali memangkas proyeksi perekonomian pada kuartal II 2020 akibat dampak pandemi virus corona. Presiden Joko Widodo menyebut ekonomi domestik dapat terkontraksi hingga minus 4,3%, lebih buruk dari proyeksi sebelumnya yang minus 3,8%.

"Ini dari hitungan pagi tadi yang saya terima, kuartal kedua mungkin kita bisa minus ke 4,3%," ujar Jokowi saat memberi pengarahan kepada para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/7) sebagaimana dikutip dari laman Setkab.go.id.

Menurut Jokowi, prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua 2020 ini sudah sangat rendah. Jika dibandingkan dari kuartal sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun 7,27%. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama masih tercatat sebesar 2,97%, meski jauh di bawah proyeksi awal pemerintah sebesar 4,2%.  

Jokowi lantas mengatakan tak dapat membayangkan seanjlok apa perekonomian Indonesia jika pemerintah melakukan karantina atau lockdown. "Kalau kita dulu lockdown gitu mungkin bisa minus 17%," kata Jokowi.

(Baca: Ekonomi Kuartal II Minus 12,6%, Singapura Masuk Jurang Resesi)

Oleh karena itu, ia meminta para gubernur betul-betul mengatur kebijakan dari sisi kesehatan dan ekonomi secara seimbang. Para gubernur tak bisa hanya berupaya mendongkrak ekonomi, tetapi membiarkan laju penularan corona meningkat, demikian pula sebaliknya.

"Dua-duanya ini harus betul-betul di gas dan remnya diatur betul, semuanya terkendali," kata Jokowi.

Lebih lanjut, Jokowi ingin para gubernur bisa mengungkit ekonomi mulai di kuartal ketiga 2020. Momentum perbaikan ekonomi hanya ada pada Juli-September 2020.

Jika momentum tersebut tak dimanfaatkan, mustahil untuk bisa mendorong ekonomi Indonesia menjadi positif di kuartal keempat 2020. "Harapan kita hanya ada di kuartal ketiga, Juli, Agustus, dan September," kata dia.

Proyeksi serupa juga sebelumnya disebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Adi Budiarso menjelaskan bahwa proyeksi tersebut merupakan hal yang wajar karena situasi kuartal II masih berat. "Terutama dari semua sisi konsumsi," kata Adi kepada Katadata.co.id, Rabu (15/7).

Kendati demikian, Adi menegaskan pemerintah akan mengejar pemulihan perekonomian yang cepat pada kuartal III dan IV tahun ini. "Sejalan dengan implementasi program pemulihan ekonomi nasional," ujarnya.

(Baca: Sri Mulyani Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Semester I Minus 1,1%)

Sebelumnya, Sri Mulyani juga sempat memperkirakan pertumbuhan ekonomi semester I 2020 terkontraksi minus 0,4% hingga 1,1%. Penyebabnya, karena tekanan pada perekonomian kuartal II 2020 kemungkinan lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya.

Tekanan pada perekonomian sepanjang kuartal II 2020 utamanya disebabkan karena, adanya pembatasan sosial di tingkat daerah secara masif untuk mengendalikan penyebaran virus corona atau Covid-19. Kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga minus 1,1% menurut Sri Mulyani sangat mungkin terjadi, mengingat pada kuartal I 2020 perekonomian sudah berada dalam tekanan.

Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, pertumbuhan ekonomi tercatat hanya 2,97%, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi yang biasanya dicapai Indonesia, di kisaran 5%. Sejak kuartal I 2020, indikasi perlambatan ekonomi sudah terasa dari penurunan konsumsi masyarakat untuk sektor transportasi, restoran, dan hotel.

Ditambah lagi, realisasi investasi juga rendah, terutama untuk jenis mesin, dan produk kekayaan intelektual. Kendati demikian, perdagangan internasional masih bisa tumbuh positif pada kuartal I 2020. Hal ini didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas, serta penurunan impor seiring pelemahan permintaan domestik. 

Adapun ata yang dirilis Bank Mandiri di bawah ini menunjukkan pandemi corona terutama memukul empat sektor. 

Sri Mulyani pun berharap, akan ada pemulihan ekonomi pada kuartal III 2020. Meski demikian, ia memprediksi laju pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi di zona negatif, yakni minus 1,2% hingga minus 1,1%.

"Perubahan ke arah positif diharapkan terlihat pada kuartal IV 2020, di mana kami memproyeksi pertumbuhannya berada di kisaran 1,6-3,2%," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (9/7).

Menkeu pun optimistis program stimulus bantuan sosial akan mendorong konsumsi masyarakat pada semester II 2020. Selain itu, konsumsi pemerintah juga akan meningkat, sejalan dengan realisasi belanja pemerintah pusat dan daerah. Dari sisi investasi, ia memperkirakan akan tumbuh moderat seiring dengan membaiknya keyakinan investor.

Kemudian, perdagangan internasional diprediksikan masih mengalami kontraksi karena masih rendahnya permintaan global. Dengan demikian, perkiraan pertumbuhan ekonomi semester II 2020 akan berada pada level 0,3% hingga 2,2%. Secara keseluruhan, perekonomian akan tumbuh pada level minus 0,4% sampai 1% pada tahun ini.

Reporter: Dimas Jarot Bayu
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait