PLN Hemat Rp 25 T dari Penundaan Operasional 14 Pembangkit Listrik

PLN telah menyepakati penundaan jadwal Commercial Operation Date (COD) 14 proyek pembangkit listrik dengan para Independent Power Producer (IPP).
Image title
1 Oktober 2021, 21:11
PLN, IPP, pembangkit listrik
ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/foc.
PLN meminta IPP menurunkan capacity factor (CF). Saat ini, terdapat sekitar 34 IPP yang tengah melakukan konsultasi dengan PLN.

PT PLN telah menyepakati penundaan jadwal Commercial Operation Date (COD) 14 proyek pembangkit listrik dengan para Independent Power Producer (IPP) guna mengatasi kelebihan pasokan listrik. Hal ini berpotensi menghemat dana PLN mencapai Rp 25 triliun.

Direktur Niaga dan Manajemen PLN Bob Syahril mengatakan, pihaknya tengah melakukan negosiasi dengan para pengembang IPP. Hal ini dilakukan pada proyek yang telah beroperasi, tahap pembangunan, proyek yang sudah mencapai kepastian pendanaan (financial close) untuk memundurkan target commercial operation date (COD).

Selain memundurkan target COD pembangkit, PLN juga meminta IPP menurunkan capacity factor (CF). Saat ini, terdapat sekitar 34 IPP yang tengah melakukan konsultasi dengan PLN.

"Telah tercapai kesepakatan sebanyak 14 IPP dengan penghematan sekitar Rp 25 triliun," kata dia kepada Katadata.co.id, Jumat (1/10).

Penundaan pembangkit ini penting bagi efesiensi keuangan perusahaan setrum pelat merah. Hal ini karena tagihan pembelian listrik PLN dari IPP melalui kebijakan sistem take or pay melonjak setiap tahun. 

PLN memperkirakan tagihan dari IPP mencapai Rp 100 triliun pada tahun ini. Kondisi ini membuat keuangan PLN tertekan. Apalagi, pertumbuhan konsumsi listrik nasional saat ini masih rendah imbas pandemi Covid-19.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sebelumnya mengkritik langkah pemerintah yang mengejar target bauran energi baru terbarukan (EBT). Padahal saat ini terjadi kelebihan pasokan  listrik.

Peneliti INDEF Abra Talattov menilai Indonesia sedang dihadapkan dengan komitmen untuk menuju pada pembangunan rendah karbon. Namun di sisi lain, serapan konsumsi listrik belum optimal sehingga terjadi kelebihan pasokan mencapai 13 gigawatt (GW).

"Kami setuju arah kebijakan ke depan ada energi berkelanjutan. Namun, perlu obyektif melihat situasi saat ini, apakah akselerasi EBT ini kita butuhkan?," kata Abra dalam diskusi Masa Depan Energi Geothermal, Kamis (30/9).

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait