Modal Asing Kembali Masuk RI, Rupiah Menguat ke Rp 16.305 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah menguat seiring modal asing yang kembali mengalir ke Indonesia akibat kebijakan stimulus AS untuk meredam dampak pandemi corona.
Agatha Olivia Victoria
26 Maret 2020, 17:07
nilai tukar rupiah, rupiah menguat, stimulus as, aliran modal asing, pandemi corona, virus corona
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Ilustrasi. Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini menguat 1,18% ke posisi Rp 16.305 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan di pasar spot sore ini menguat 1,18% ke posisi Rp 16.305 per dolar AS. Rupiah melesat seiring modal asing yang kembali mengalir ke Indonesia. 

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, yen Jepang naik 1,18%, dolar Singapura 0,62%, dolar Taiwan 0,11%, peso Filipina 0,12%, rupee India 1,01%, yuan Tiongkok 0,35%, ringgit Malaysia 1,16%, dan baht Thailand 0,26%.

Sedangkan, mata uang Asia seperti dolar Hong Kong dan won Korea Selatan melemah masing-masing 0,01% dan 0,3%.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate yang dipublikasikan BI pukul 10.00 WIB juga menempatkan rupiah hari ini menguat 158 poin ke level Rp 16.328 per dolar AS.

Advertisement

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai, saat ini beberapa investor global kembali tertarik membeli obligasi pemerintah. "Walaupun jumlahnya kecil, kami mencatat sejak Selasa hingga hari ini investor asing membeli Surat Berharga Negara khususnya di pasar sekunder," kata Perry di Jakarta, Kamis (26/3).

(Baca: BI Sediakan Uang Baru Rp 450 Triliun Cegah Peyebaran Virus Corona)

Selain itu, modal asing yang keluar dari Tanah Air juga mulai menurun saat ini. Ini membuat kondisi pasar saham dan obligasi di dalam negeri membaik.

Perry menjelaskan pihaknya terus berkomunikasi dengan investor global beberapa waktu terakhir. "Mereka katakan sudah mulai confidence dengan Indonesia. Kemarin itu murni memang hanya panik dan menarik uang  tunai. Ke depan mereka akan menanamkan modalnya kembali," ucap dia.

Analis HFX Berjangka Ady Pangestu menilai, penguatan rupiah saat ini merupakan euforia dari kebijakan stimulus Bank Sentral AS The Federal Reserve. "Namun secara teknis berpotensi melemah," kata Ady saat dihubungi Katadata.co.id.

(Baca: BI: Kondisi Saat Ini Lebih Kuat daripada Krisis Ekonomi 2008 dan 1998)

Alasannya, Indonesia masih menjadi perhatian khusus mengingat terdapat defisit kembar pada anggaran dan transaksi berjalan sehingga sangat bergantung pada aliran modal asing. Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah 15%.

"Ini menjadikannya mata uang berkinerja terburuk di Asia dan hal ini akan memberi tekanan pada perusahaan-perusahaan yang membiayai kembali utang dolar AS mereka," ujarnya.

Ady pun memperkirakan rupiah besok masih berpotensi tertekan kisaran Rp 16.400 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait