Nasib Bank Tahun Ini: Likuiditas Longgar tapi Kredit Terancam Minus 2%

BI mencatat penyaluran kredit hingga Oktober 2020 mengalami kontraksi 0,47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Agatha Olivia Victoria
7 Desember 2020, 16:28
bank indonesia, kredit, pertumbuhan kredit, pemulihan ekonomi
Donang Wahyu|KATADATA
Ilustrasi. BI memproyeksi kredit tahun depan tumbuh 7% hingga 9%.

Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan kredit tak tumbuh, bahkan berpotensi negatif hingga 2% meski kondisi likuiditas perbankan longgar. Bank Indonesia sepanjang tahun ini telah menginjeksi likuiditas perbankan mencapai Rp 682 triliun, terbesar di antara negara emerging markets. 

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menjelaskan terjadi fenomena credit crunch pada tahun ini. Penyaluran kredit diperkirakan tak tumbuh, bahkan berpotensi terkontraksi. 

"Harapannya isu credit crunch yang terjadi pada tahun ini berakhir pada tahun depan sehingga kredit akan tumbuh 7% hingga 9%," ujar Dody dalam Focus Group Discussion terkait Outlook Ekonomi dan Keuangan Digital 2021 pada Senin (7/12).  

Dody menjelaskan, BI telah menggelontorkan likuiditas mencapai Rp 628 triliun. Pelonggaran kuantitatif tersebut, terdiri dri pembelian SBN pada pasar sekunder Rp 166,2 triliun, term repo dan fx swap Rp 345 triliun, penurunan GWM rupiah 300 bps sekitar Rp 155 triliun, dan tidak mengenakan tambahan giro untuk RIM sebesar Rp 15,8 triliun. 

Advertisement

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tambahan likuiditas tersebut mencapai 4,4% dari Produk Domestik Bruto RI. "Ini suntikan likuiditas terbesar di antara emerging market," ujar Perry dalam Outlook Ekonomi Moneter dan Keuangan Digital 2021, Senin (7/12).

Meksiko tercatat menggelontorkan injeksi likuditas sebesar 3,3% PDB, terbesar kedua setelah Indonesia di antara negara emerging market. Kemduian disusul Chili 2,8%, Filipina 1,6%, Thailand 0,6%, dan India 0,2%.

Sementara jika dilihat dari seluruh negara, jumlah injeksi likuiditas terbesar dilakukan oleh Bank Sentral Eropa, European Central Bank, Bank Sentral Jepang, Bank of Japan, Bank Sentral Inggris, Bank of England, dan Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Perry pun berharap langkah tambahan injeksi likuiditas tersebut bisa mendorong pemulihan ekonomi ke depan. Tak hanya pemulihan di sisi permintaan, tetapi pada penyaluran kredit  perbankan.

Kendati demikian, dia mengidentifikasi permintaan kredit sejumlah subsektor mulai meningkat saat ini. "Plafon kredit perbankan juga tersedia," kata dia.

Ia menjelaskan, kredit sektor makanan dan minuman, industri logam, kulit dan alas kaki, serta komunikasi berpotensi meningkat . Sementara beberapa sektor perlu didorong dengan insentif pemerintah untuk mempertemukan permintaan dan penawaran kredit. 

BI pun berkomitmen akan terus melanjutkan stimulus kebijakan moneter dan makroprudensial dalam mendukung pemulihan ekonomi. Di sisi lain, digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong percepatan akselerasi ekonomi dan keuangan digital akan terus dilanjutkan.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance Esther Sri Astuti menilai saat ini ketidakpastian masih melanda Tanah Air akibat pandemi. "Jadi bank masih sangat berhati-hati mengucurkan kredit," kata Esther kepada Katadata.co.id, Senin (7/12).

Di sisi sektor usaha, penurunan omset karena turunnya permintaan menurut ia mengakibatkan permintaan terhadap kredit dari korporasi juga berkurang. Dengan demikian, injeksi likuiditas bank sentral tak akan terpakai dengan keadaan tersebut.

Berdasarkan data BI, penyaluran kredit pada Oktober 2020 mengalami kontraksi 0,47% secara tahunan. Lemahnya pertumbuhan kredit pada periode tersebut terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di Nusa Tenggara Barat dan Papua. Di sisi lain, DPK perbankan tumbuh mencapai 11,6%. 

Pelonggaran likuiditas yang sangat besar oleh bank sentral sejauh ini masih banyak berputar di perbankan dan belum mengalir dalam bentuk penyaluran kredit ke sektor riil. Namun di sisi lain, penurunan suku bunga dan pelonggaran likuiditas tersebut berperan penting dalam terjaganya stabilitas sistem keuangan. Hal ini terutama dengan terjaganya risiko suku bunga dan risiko likuiditas perbankan.

Pelonggaran likuiditas tersebut juga berperan positif terhadap profitabilitas perbankan dengan membaiknya pendapatan dari penanaman likuiditas pada instrumen SPN dan SBN. 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait