Surat Utang Global Kerek Cadangan Devisa RI hingga Rekor Tertinggi

BI mencatat cadangan devisa pada Januari 2021 mencapai US$ 138 miliar yang merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Image title
5 Februari 2021, 15:28
cadangan devisa, rekor tertinggi, cadangan devisa cetak rekor
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Ilustrasi. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia hingga akhir Januari mencapai US$ 138 miliar, naik dari posisi akhir tahun lalu US$ 135,9 miliar. Kenaikan cadangan devisa didorong oleh penerbitan surat utang global pemerintah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,5 bulan impor atau 10 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Cadangan devisa tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Peningkatan cadangan devisa pada Januari 2021 terutama dipengaruhi oleh penerbitan global bonds pemerintah dan penerimaan pajak," ujar Erwin dalam siaran pers, Jumat (5/2).

Menurut Erwin, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. "Ke depan, BImemandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi," kata Erwin.

BI seblumnya mencatat, aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik terus berlanjut dan mencapai US$ 5,1 miliar per 19 Januari 2021, termasuk penerbitan obligasi global oleh pemerintah. Angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dana asing masuk pada 2020 yang hanya US$ 11 miliar

Ekonom PermataBank Josua Pardede menjelaskan, faktor fundamental ekonomi Indonesia turut mendorong potensi aliran modal asing yang masuk. Kondisi ekonomi makro RI terpantau stabil seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi, terjaganya inflasi, terjaganya keseimbangan eksternal, serta kondisi fiskal.

Beberapa faktor eksternal juga mempengaruhi derasnya modal asing ke Tanah Air yakni rencana paket stimulus fiskal Amerika Serikat yang dikombinasikan dengan kebijakan Bank Sentral AS, The Fed yang cenderung akomodatif. "Ini sangat mendorong potensi preferensi investor global ke aset-aset keuangan yang lebih berisiko yakni di pasar keuangan negara berkembang," kata Josua. 

Selain investasi portofolio, ia memprediksikan aliran modal asing langsung alias foreign direct investment akan meningkat sejalan dengan implementasi UU Cipta Kerja dan LPI. "Ini karena keduanya akan mendorong peningkatan kemudahan berbisnis di Indonesia," ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait