Kredit Baru Diramal Melambat Meski Bank Longgarkan Kebijakan

Perlambatan penyaluran kredit pada kuartal III 2021 diperkirakan terjadi pada jenis kredit modal kerja.
Image title
17 September 2021, 16:58
penyaluran kredit, bank indonesia
Donang Wahyu|KATADATA
Ilustrasi. BI mencatat penyaluran kredit pada Juli hanya mencapai 0,3% secara tahunan, melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyaluran kredit baru melambat pada kuartal III 2021 dibandingkan kuartal sebelumnya meski bank melonggarkan kebijakannya. Perlambatan terutama terjadi pada penyaluran Kredit Modal Kerja (KMK), sedangkan kredit jenis lainnya diperkirakan membaik.

Berdasarkan Hasil Survei Permintaan dan Penawaran Pembiayaan Perbankan BI periode Agustus 2021 menunjukkan, perlambatan penyaluran kredit baru pada periode Juli-September terindikasi dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang diperkirakan sebesar 20,5%, jatuh dari perkiraan bulan sebelumnya 63,1%.

Proyeksi perlambatan kredit baru ini sejalan dengan realisasi penyaluran kredit yang melambat pada Juli. BI mencatat penyaluran kredit pada Juli hanya mencapai 0,3% secara tahunan, melambat dibandingkan bulan sebelumnya seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.

Perlambatan kredit baru terutama terjadi pada penyaluran KMK dengan nilai SBT 27,1% , turun dari perkiraan bulan Juli yang diramal bisa ekspansi 44,1%. Sementara kredit untuk jenis penggunaan lainnya diramal akan menguat, terutama pada kredit konsumsi lainnya yang naik dari Juli 38,3% menjadi 48,8% bulan lalu.

Pembiayaan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga diramal semakin kuat dengan SBT 36% pada Agustus, lebih baik dibandingkan Juli 31,1%.  SBT kredit investasi (KI) juga naik meskipun tipis dari 19,2% menjadi 20,6%.

Perlambatan penyaluran kredit baru pada kuartal III terutama terjadi pada bank umum yang nilai SBT-nya jatuh dari survei bulan Juli 59,9% menjadi 13,9%. Disusul Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang melambat dari 97,1% menjadi 78,7%, sedangkan Bank Umum Swasta (BUS) hanya turun tipis dari 87,7% menjadi 87,2%.

Perlambatan kredit baru diperkirakan tetap terjadi meski survei BI menunjukkan bahwa kebijakan penyaluran kredit baru akan lebih longgar pada kuartal III dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini tercermin dari SBT perubahan kebijakan penyaluran kredit baru pada survei Agustus yang tumbuh negatif 1,6%, namun ini masih lebih ketat dibandingkan perkiraan bulan sebelumnya yang bisa tumbuh negatif 2%.

Pelonggaran kebijakan akan terjadi pada seluruh jenis kredit terutama KPR yang SBT-nya negatif 5%, disusul kredit konsumsi lainnya negatif 4,1%, KMK negatif 2,3% dan KI sebesar negatif 2%.

Kendati diprediksi melambat,survei tersebut BI juga melaporkan penyaluran kredit baru pada Agustus 2021 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini terindikasi dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru bulan lalu sebesar 25%, naik dari bulan Juli sebesar 22,1%.

"Hal tersebut terutama didorong oleh jenis penggunaan KPR dan kredit konsumsi lainnya, sementara jenis Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI) diprakirakan melambat," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resminya, Jumat (17/9).

Penyaluran kredit baru untuk KPR melesat dari SBT yang terkontraski 8,3% bulan Juli, kemudian tumbuh posisi 16,2% pada Agustus 2021. Ini diikuti pula kredit konsumsi lainnya yang bulan lalu meroket ke level 37,6% dari bulan sebelumnya hanya 3,3%.

Penyaluran kredit baru untuk penggunaan KMK jatuh dari 28,5% menjadi 16,6% bulan lalu. Begitu juga kredit investasi yang melambat dari 14,4% menjadi 10,1%.

Berdasarakan kategori lapangan usaha, penyaluran kredit baru terutama banyak dimanfaatkan oleh perdagangan besar dan eceran. Disusul sektor industri pengolahan, konstruksi serta pertanian, kehutanan dan perikanan.

Selanjutnya, jika dilihat dari kelompok bank, penyaluran kredit baru terutama melalui Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang lompat dari 56% pada Juni 2021 menjadi 85,9% bulan lalu. Disusul Bank Umum (BU) yang naik tipis dari 17,8% menjadi 19,6%. Sementara penyaluran lewat Bank Umum Swasta (BUS) melambat menjadi 38,1% dari 82,9% bulan sebelumnya.

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait