Utang Luar Negeri Jangka Pendek RI Rp 716 T, Mayoritas Milik Swasta

BI mencatat utang luar negeri tenor jangka pendek meningkat pada September 2021, didorong oleh penarikan utang swasta.
Image title
16 November 2021, 16:35
utang luar negeri, utang, utang swasta
KATADATA/ Arief Kamaludin
BI mencatat utang jangka pendek sektor swasta sebesar US$ 49,88 miliar, naik sebesar US$ 993 juta dari bulan sebelumnya.

Bank Indonesia mencatat, utang luar negeri Indonesia hingga akhir September 2021 mencapai US$ 431,12 triliun setara Rp 6.059 triliun mengacu kurs JISDOR periode yang sama. Meski posisi ULN tersebut turun dibandingkan bulan sebelumnya, ULN dalam tenor jangka pendek justru meningkat, terutama didorong oleh penarikan oleh swasta. 

 

"Utang jangka pendek merupakan ULN yang berjangka waktu kurang atau sama dengan satu tahun," tulis dalam laporan Statistik Utang Luar Negeri edisi November seperti dikutip Katadata.co.id, Selasa (16/11).

BI mencatat, ULN jangka pendek Indonesia pada akhir September mencapai US$ 50,04 miliar atau Rp 716 triliun. Nilainya naik US$ 959 juta dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi ULN jangka pendek pada September juga tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang tahun 2021.

Advertisement

Peningkatan ULN jangka pendek terutama terjadi utang yang ditarik oleh sektor swasta. Utang jangka pendek sektor swasta sebesar US$ 49,88 miliar, naik sebesar US$ 993 juta dari bulan sebelumnya. Selain itu, nilai ini mencakup 99% dari total ULN jangka pendek Indonesia pada akhir September.

Sektor swasta mencakup utang yang dimiliki oleh lembaga keuangan bank, lembaga keuangan bukan bank, serta utang oleh perusahaan bukan lembaga keuangan. Separuh dari utang jangka pendek swasta tersebut disumbangkan oleh perusahaan bukan lembaga keuangan.

Sedangkan ULN jangka pendek yang dimiliki pemerinta berkurang US$ 33 juta menjadi hanya US$ 151 juta. Sementara yang dimiliki bank sentral tidak berubah yakni US$ 11 juta.

Meski demikian, ULN jangka pendek hanya berkontribusi 12% dari total ULN Indonesia secara keseluruhan. Sisanya, sebesar US$ 373.08 miliar atau 88% merupakan ULN jangka panjang bertenor lebih dari setahun.

Adapun lebih dari separuh ULN jangka panjang Indonesia merupakan milik pemerintah sebesar US$ 205,4 miliar. Kepemilikan bank sentral sebesar US$ 9,1 miliar. ULN jangka panjang sektor swasta sebesar US$ 158,6 miliar.

"Dari sisi risiko refinancing, posisi ULN Pemerintah aman karena hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN Pemerintah," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/11).

Adapun porsi ULN jangka panjang yang dimiliki bank sentral sendiri mencakup 99,9% dari total ULN yang dimiliki. Sedangkan kepemilikan ULN jangka panjang oleh sektor swasta merupakan yang paling kecil sebesar 76,1% dari total utang swasta pada akhir September.

Selain ditunjukkan dengan masih tingginya porsi utang jangka panjang, Erwin juga mengatakan kesehatan ULN Indonesia juga tercermin dari rasionya terhadap Produk Domestik Bruto yang terjaga rendah di kisaran 37%. Ini turun dari bulan sebelumnya sebesar 37,2% terhadap PDB.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait