Pemerintah Tarik Utang, Cadangan Devisa Naik Jadi US$ 145,9 M

Image title
7 Desember 2021, 10:37
cadangan devisa, cadev, dolar AS, utang, utang pemerintah
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Posisi cadangan devisa menjadi salah satu komponen untuk mengukur kemampuan monter domestik merespons rencana tapering off bank sentral AS.

Bank Indonesia mencatat, cadangan devisa hingga akhir November 2021 mencapai US$ 145,9 miliar, naik dibandingkan posisi bulan sebelumnya US$ 145,5 miliar. Kenaikan cadangan devisa, antara lain didorong oleh langkah pemerintah menarik utang luar negeri. 

"Peningkatan posisi cadangan devisa pada November 2021 antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam siaran pers, Selasa (7/12).

Ia menjelaskan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,3 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa ini juga  berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Erwin.

BI pun memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Posisi cadangan devisa sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pada September 2021 mencapai US$ 146,9 miliar, sebelum turun pada Oktober akibat pembayaran utang luar negeri. Cadangan devisa Indonesia meningkat tajam pada sepanjang tahun ini terutama disokong oleh dana hak penarikan khusus (SDR) yang diberikan Dana Moneter Internasional (IMF). Jumlah SDR yang diterima dari IMF sebesar US$ 6,31 miliar.

BI sebelumnya memastikan dana alokasi Special Drawing Rights (SDR) yang diterima Indonesia dari IMF  bukan utang. Dana yang diterima kali ini berbeda dari pinjaman IMF yang diterima pada krisis ekonomi 1998 yang lalu.

"SDR yang kami terima dan juga diterima negara lain ini bukan utang, tidak ada batas waktunya dan juga tidak ada ketentuan bahwa SDR yang kami terima saat ini harus dikembalikan dalam 5 atau 10 tahun," Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi dalam diskusi dengan media, Rabu (8/9).

Doddy menjelaskan, alokasi SDR yang diterima Indonesia hanya bertujuan untuk untuk menambah cadangan devisa. Ini diberikan kepada semua negara anggota IMF. Penyalurannya dilakukan sesuai dengan kesepakatan semua negara anggota.

Ia juga membantah bahwa penyaluran SDR dilakukan secara khusus atas permintaan Indonesia. Semua negara, menurut Dody, menerima dana sesuai kuota yang dimilikinya. Negara-negara ekonomi besar seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropa justru menerima dana SDR dalam jumlah lebih besar.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga menilai posisi cadangan devisa menjadi salah satu komponen untuk mengukur kemampuan monter domestik merespons rencana tapering off bank sentral AS. Dia menilai, posisi cadangan devisa RI yang terus meningkat membantu mengurangi kekhawatiran atas risiko gejolak akibat pengetatan stimulus Fed.

"Cadangan devisa kita saat ini jauh lebih besar dari kondisi taper tantrum 2013 yang saat itu hanya sekitar US$ 90 miliar sampai US$ 100 miliar," kata David kepada Katadata.co.id.

Advertisement

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait