Bunga RI Rendah, Benarkah Orang Kaya Pindahkan Simpanan ke Singapura?

Langkah BI mempertahankan suku bunga saat bank sentral negara-negara lain menaikkan bunga meningkatkan kekhawatiran terjadinya perpindahan simpanan dari perbankan ke luar negeri, termasuk Singapura.
Abdul Azis Said
2 Agustus 2022, 18:43
simpanan, perbankan, suku bunga, valas, simpanan valas
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU
Ilustrasi. LPS mencatat, simpanan dalam valas di perbankan pada Juni 2022 naik 4,5% secara tahunan.

Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan di level terendah sepanjang sejarah sebesar 3,5% meski bank sentral negara tetangga, termasuk Singapura mulai mengerek dana. Kondisi ini memicu kekhawatiran terjadi perpindahan simpanan dana, terutama dalam bentuk valuta asing dari perbankan domestik ke luar negeri. 

Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa tak melihat tanda-tanda ada pergeseran dana tersebut. Menurut dia, simpanan valuta asing di perbankan masih mencatatkan pertumbuhan pada Juni mencapai 4,5% secara tahunan. 

 

"LPS selalu mengawasi pergerakan uang di perbankan. Belum ada indikasi kuat pengalihan dana simpanan di perbankan ke luar negeri," ujar Purbaya dalam konferensi pers, Senin (1/7) 

Advertisement

Ia menjelaskan, simpanan valas di perbankan justru mengalami pergeseran dari deposito ke giro. Purbaya mencatat, deposito valas pada Juni 2022 turun dari US$ 21,42 miliar pada Januari 2022 menjadi US$ 19,9 miliar. Sebaliknya, giro valas meningkat dari US$ 36,48 miliar menjadi US$ 37,55 miliar. 

"Perpindahan dana  ini menggambarkan ekonomi yang sedang berekspansi. Ini memberikan indikasi yang kuat bahwa pemilik dana tersebut sedang bersiap-siap untuk menggunakannya dalam kegiatan ekonomi riil,” ujarnya.

 

Melihat kondisi tersebut, Purbaya melihat belum adanya urgensi untuk menaikkan tingkat bunga penjaminan valas. Kenaikan bunga penjaminan valas justru dikhawatirkan justru memicu masyarakat menukarkan rupiah dengan dolar AS untuk disimpan di perbankan. 

Saat ini, menurut dia, cakupan penjaminan simpanan valas mencapai 98,5% dari jumlah rekening. Ia memastikan kebijakan tingkat bunga penjaminan LPS, termasuk simpanan valas akan sejalan dengan kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang saat ini masih diarahkan untuk mendorong perekonomian. 

“Dengan kata lain, LPS tidak akan pernah mengganggu sinyal kebijakan moneter dari bank sentral,” katanya. 

Ia juga menegaskan pihaknya juga selalu berkoordinasi terkait pemantauan simpanan perbankan dengan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) lainnya, yakni Bank Indonesia, pemerintah, dan Otoritas Jasa Keuangan. 

 Adapun LPS mencatat, total simpanan nasabah perbankan hingga Juli 2022 mencapai Rp 7.677 triliun, naik 1,2% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan simpanan terutama terjadi pada kelompok simpanan nasabah kaya dengan saldo di atas Rp 5 miliar yang naik 2,2% dalam sebulan atau 14,2% secara tahunan. 

Kenaikan simpanan pada kelompok nasabah tajir ini merupakan yang terbaik dibandingkan kelompok simpanan lainnya berdasarkan nominal. Jumlah simpanan pada kelompok tersebut kini mencapai Rp 3.983 triliun atau 51,9% dari total simpanan di bank.

"Kenaikan nominal simpanan terbesar terdapat pada tiering simpanan di atas Rp 5 miliar sebesar 2,2% secara bulanan, sedangkan penurunan pertumbuhan nominal simpanan terdalam terdapat pada tiering di atas Rp 1 miliar-Rp 2 miliar sebesar minus 0,2%," demikian tertulis dalam laporan LPS dikutip Selasa (2/8).

Sementara itu, jumlah simpanan nasabah kecil dengan nominal kurang dari Rp 100 juta, naik tipis 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya. Kelompok simpanan ini pada tiering ini berkontribusi 12,7% dari total simpanan perbankan atau sebesar Rp 976 triliun.

Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait