Jokowi Patok Ekonomi 2023 Tumbuh 5,3%, Apa Kabar RI Jadi Negara Maju?

Presiden Joko Widodo mematok pertumbuhan ekonomi pada tahun depan sebesar 5,3%. Ini di bawah target rata-rata pertumbuhan ekonomi yang harus dicapai Indonesia untuk menjadi negara maju pada 2045.
Agustiyanti
16 Agustus 2022, 16:03
jokowi, pertumbuhan ekonomi, rapbn 2023
ANTARA FOTO/HO/Biro Pers Sekretariat Presiden-Kris/aww.
Presiden Joko Widodo Jokowi mengatakan, Indonesia mendapatkan apresiasi sebagai salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dan memulihkan ekonominya dengan cepat.

Presiden Joko Widodo mematok target pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2023 sebesar 5,3%, naik tipis dibandingkan target APBN 2022 sebesar 5,2%. Target ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% per tahun yang harus dicapai untuk menjadi negara maju pada 2045. 

"Pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan sebesar 5,3%. Kami akan berupaya maksimal dalam menjaga keberlanjutan penguatan ekonomi nasional,' ujar Jokowi dalam pidato nota keuangan RAPBN 2023, Selasa (16/8). 

Jokowi mengatakan, Indonesia mendapatkan apresiasi sebagai salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dan memulihkan ekonominya dengan cepat. Pemulihan ekonomi Indonesia dalam tren yang terus menguat, tumbuh 5,01% pada kurtal I dan 5,44% pada kurtal II. 

Advertisement

Sektor-sektor strategis seperti manufaktur dan perdagangan, menurut dia, tumbuh secara ekspansif didukung oleh konsumsi masyarakat yang mulai pulih serta solidnya kinerja ekspor. Neraca perdagangan bahkan mengalami surplus selama 27 bulan berturut-turut.

"Sektor manufaktur yang mengalami pemulihan kuat menopang tingginya kinerja ekspor nasional," ujarnya. 

Meski demikian, menurut dia, Indonesia harus terus waspada dengan risiko gejolak ekonomi global yang masih tinggi. Konflik geopolitik dan perang di Ukraina telah menyebabkan eskalasi gangguan sisi suplai yang memicu lonjakan harga-harga komoditas global dan mendorong kenaikan laju inflasi di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia.

IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 6,1% di tahun 2021 menjadi 3,2% di tahun 2022 dan 2,9% di tahun 2023.

"Perlambatan ekonomi dunia tetap berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek," kata Jokowi. 

Di sisi lain, pemerintah menargetkan inflasi akan tetap dijaga pada kisaran 3,3% pada tahun depan, rata-rata nilai tukar rupiah di sekitar Rp 14.750 per dolar AS dan rata-rata suku bunga Surat Utang Negara 10 tahun di level 7,85%.

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) akan berkisar di  US$ 90per barel, sedangkan lifting minyak dan gas bumi diperkirakan masing-masing mencapai 660 ribu barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari.

Jokowi pun berharap perbaikan kesejahteraan rakyat akan terus berlanjut pada tahun depan.  Tingkat pengangguran terbuka  diharapkan dapat ditekan dalam kisaran 5,3% hingga 6,0%, angka kemiskinan dalam rentang 7,5% hingga 8,5%, rasio gini dalam kisaran 0,375 hingga 0,378, serta Indeks Pembangunan Manusia dalam rentang 73,31 hingga 73,49. Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) juga akan ditingkatkan untuk mencapai kisaran masing-masing 105-107 dan 107-108.

Kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas sebelumnya menunjukkan butuh pertumbuhan ekonomi rata-rata 6% per tahun untuk bisa keluar dari middle income trap alias jebakan pendapatan menengah dan menjadi negara kaya pada 2045.

"Pertumbuhan di 5% saja tidak cukup bagi Indonesia untuk bisa mencapai high income country pada tahun 2045,  pertumbuhan di rata-rata 6% menjadi keharusan bagi Indonesia," kata Deputi bidang Ekonomi Bappenas Amalia A Widyasanti. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait