Sri Mulyani Sambut Positif Sorotan Masyarakat Atas Utang Pemerintah

Sri Mulyani mengatakan krisis di masa depan bisa saja terjadi dari perubahan iklim hingga disrupsi teknologi. Oleh sebab itu pemerintah perlu menyiapkan APBN yang kuat.
Ameidyo Daud Nasution
24 Oktober 2021, 17:05
sri mulyani, utang, apbn, krisis
Antara/Rivan Awal Lingga
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersiap mengikuti rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/6/2021). Rapat tersebut membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengapresiasi banyaknya masyarakat yang saat ini memberikan perhatian terhadap keuangan negara. Menurutnya, kondisi saat ini berbeda dengan masa lalu saat pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) belum menjadi sorotan publik.

Salah satunya adalah perhatian masyarakat terhadap pengelolaan utang negara saat krisis Covid-19. Sri menjelaskan pada krisis sebelumnya, publik belum menyoroti beban APBN untuk menopang ekonomi RI.

“Pada krisis 97-98 dan 2008-2009 tidak ada yang melihat. Sekarang semua mengurusi utang, it is good karena punya ownership kepada keuangan negara,” kata Sri dalam sebuah diskusi yang digelar harian Kontan, Minggu (24/10).

 

Sri mengatakan APBN adalah senjata terakhir pemerintah dalam melawan setiap krisis yang terjadi. Dia lalu menjelaskan setiap guncangan ekonomi yang terjadi sejak dua dekade lalu.

Pada krisis 1998, krisis dipicu kondisi neraca pembayaran yang buruk terutama di Asia Timur. Krisis cepat menjalar ke Asia Tenggara hingga Amerika Latin.

Buntutnya, RI harus mereformasi perekonomian mulai dari mengeluarkan Undang-Undang Keuangan Negara, independensi Bank Indonesia, serta melahirkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Kondisi tersebut membuat dampak yang dirasakan Indonesia saat krisis 2008-2009 tak sebesar negara lain. Meski demikian, RI tetap melakukan reformasi, salah satunya dengan membentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Yang (krisis) pertama kita menjadi pusatnya, yang kedua relatif baik. Tak ada perusahaan tumbang,” katanya.

Krisis ketiga sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Kali ini goncangan berasal dari penularan virus SARS-CoV-2 yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina.

Hal yang membuat berbeda adalah virus ini menyerang kesehatan dan ekonomi sekaligus. Bahkan dampak Covid-19 sama-sama dirasakan negara berkembang dan kaya.

“Yang kena semua balance sheet. Rumah tangga kena, perusahaan kehilangan konsumen, mereka tak bisa membayar cicilan ke bank,” ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Buntutnya, APBN kembali bekerja keras untuk mengatasi Covid-19 dan dampaknya kepada ekonomi. Dana triliunan dikucurkan dalam bentuk bantuan sosial, suntikan kepada UMKM, hingga penundaan pajak untuk korporasi.

Sri mengatakan Covid-19 bisa jadi bukan penyebab terakhir krisis. Dia menjelaskan, potensi goncangan bisa saja terjadi dari perubahan iklim hingga disrupsi teknologi. “Maka perlu keuangan negara yang sehat karena dia harus jadi penyembuh,” katanya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait