Genjot Pembiayaan Sektor Ramah Lingkungan, OJK Rilis Taksonomi Hijau

Dokumen yang dirilis OJK ini digunakan untuk memisahkan sektor dan subsektor usaha yang ramah dan tidak ramah lingkungan. Taksonomi hijau juga bisa menjadi pedoman bank menyalurkan pinjaman
Ameidyo Daud Nasution
20 Januari 2022, 21:10
OJK, hijau, taksonomi hijau
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan laporan saat Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2022 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (20/1/2022). PTIJK 2022 mengusung tema \"Penguatan Sektor Jasa Keuangan untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Melalui Penciptaan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru\". ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan Taksonomi Hijau dalam mendukung pengembangan ekonomi hijau. Taksonomi Hijau akan digunakan pemerintah untuk memisahkan sektor dan subsektor usaha yang ramah lingkungan, kurang ramah lingkungan, dan tidak ramah lingkungan.

Peluncurkan Taksonomi Hijau ini juga disaksikan oleh Presiden Joko Widodo bersamaan dengan Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022.  Adapun, kebijakan ini akan menjadi panduan insentif dan disinsentif Kementerian/Lembaga dan OJK.

"Taksonomi Hijau disusun dengan mengkaji 2.733 klasifikasi sektor dan subsektor ekonomi, di mana 919 di antaranya telah terkonfirmasi oleh kementerian," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Jakarta, Kamis (20/1) dikutip dari Antara.

 Taksonomi Hijau juga merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk memenuhi target Perjanjian Paris (Paris Agreement). Sasaran Indonesia adalah pengurangan  emisi karbon hingga 29% dengan usaha sendiri dan 41% dukungan internasional pada 2030.

Advertisement

Wimboh juga berharap kebijakan ini mampu membuat produk asal Indonesia berdaya saing tinggi dengan produk negara lain yang dianggap ramah lingkungan. Selain itu Taksonomi Hijau diharapkan mampu membebaskan produk asal Indonesia dari hambatan dan diskriminasi untuk memasuki pasar negara lain.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo mengatakan Indonesia menjadi negara kedua di ASEAN setelah Malaysia yang mengeluarkan dokumen hijau. Dengan adanya Taksonomi Hijau, maka perbankan yang menyalurkan kredit berpotensi mendapatkan insentif seperti penurunan bobot risiko kredit.

"Semacam penyesuai ATMR. Hal ini juga akan menjadi dasar dari perdagangan karbon," kata Anto.

Selain itu keluarnya dokumen ini juga diharapkan mampu mendorong industri prioritas pemerintah seperti kendaraan listrik berbasis baterai. OJK berharap Taksonomi Hijau menjadi insentif munculnya sumber perekonomian baru.

"Sebagaimana Ibu Kota Negara (IKN) disebut ibu Menteri Keuangan sebagai sumber perekonomian baru," ujarnya.

 

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait