Citilink: Sriwijaya Air Masih di Bawah Garuda Indonesia Group

Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Pesawat Citilink di Hangar GMF,  Tanggerang,  Banten (2/3). Citilink memastikan Sriwijaya Air masih berada di bawah manajemen Garuda Indonesia Grup.
Editor: Agustiyanti
11/9/2019, 21.28 WIB

Dewan Komisaris PT Sriwijaya Air merombak susunan direksi tanpa sepengetahuan PT Citilink Indonesia, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Padahal, dua maskapai berpelat merah itu telah memiliki perjanjian Kerja Sama Manajemen (KSM) pada tahun lalu.

VP Corporate Secretary Citilink Indonesia Resty Kusandarina mengatakan meski ada perombakan direksi yang tidak diketahui, KSM dan operasional masih tetap berjalan normal. Citilink juga telah menggelar rapat terkait perombakan direksi Sriwijaya, tetapi ia belum bisa berkomentar lebih jauh terhadap isi rapat tersebut.

"KSM masih berjalan, operasional masih berjalan normal tidak  terpengaruh terhadap KSM ini," kata Resty saat ditemui di Jakarta, Rabu (11/9).

(Baca: KPPU Duga Kerja Sama Citilink-Sriwijaya Langgar Persaingan Usaha Sehat)

Sebelumnya, Citilink juga telah melayangkan surat kepada Sriwijaya untuk meminta penjelasan terkait perombakan direksi yang beredar di kalangan wartawan. Terdapat beberapa poin yang tercantum dalam surat tersebut menegaskan perseroan dan Sriwijaya hingga kini masih terikat perjanjian KSM dalam rangka penyelesaian utang kepada sejumlah BUMN. 

Kemudian, seleksi atas pengurus Sriwijaya Air dan anak usahanya juga harus dilakukan atas koordinasi dengan Citilink. Sriwijaya Air juga diminta melakukan koordinasi terkait perubahan pengurus atau manajemen.

(Baca: Sriwijaya Air Rombak Jajaran Direksi, Citilink Tuntut Penjelasan)

Pengelolaan Sriwijaya Air resmi diambilalih oleh Grup Garuda Indonesia pada November 2018. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka penyehatan keuangan Sriwijaya Air yang memiliki kewajiban atau utang terhadap Garuda Indonesia Grup dan sejumlah BUMN. 

Dengan pengambialihan pengelolaan tersebut, pangsa pasar Garuda Indonesia meningkat hingga mencapai 51%.

Reporter: Fariha Sulmaihati