Laba PLN Turun Jadi Rp 10,5 Triliun Akibat Tergerus Tax Amnesty

ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Penulis: Miftah Ardhian
Editor: Yura Syahrul
5/4/2017, 17.15 WIB
Penjualan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada tahun lalu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, laba bersih perusahaan pelat merah ini malah menurun. Salah satu faktor utama penyebabnya adalah keikutsertaan PLN dalam program pengampunan pajak.
 
Laporan keuangan tahun 2016 PLN telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar & Rekan, dengan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Pada tahun lalu, PLN mencatatkan laba bersih Rp 10,5 triliun. Nilainya menurun Rp 5,1 triliun dibandingkan tahun sebebelumnya yang sebesar Rp 15,6 triliun.
 
Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, faktor penyebab penurunan laba bersih itu adalah langkah PLN yang berusaha memberikan tarif kompetitif bagi masyarakat dan dunia usaha. Selain itu, PLN mengikuti tax amnesty untuk mendukung program pemerintah.
 
 
Akibatnya, perolehan laba tahun lalu tergerus biaya pembayaran pajak yang cukup besar dan adanya penyusutan akibat melakukan revaluasi aset tahun 2015. Dengan revaluasi aset tersebut, total aset dan ekuitas PLN di akhir 2015 meningkat sekitar Rp 650 triliun atau masing-masing meningkat sebesar 227 persen dan 453 persen.
 
"Jadi karena biaya beban pajak dan penyusutan lantaran akhir 2015 kita melakukan revaluasi aset," ujar Sofyan saat konferensi pers laporan keuangan PLN 2016 di kantor pusat PLN, Jakarta, Rabu (5/4).
 
Meski labanya melorot, menurut Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati, kinerja operasional perusahaan justru meningkat. Penjualan tenaga listrik sepanjang tahun lalu naik 2,05 persen menjadi Rp 214,1 triliun. Pertumbuhan penjualan ini berasal dari kenaikan volume penjualan sebesar 6,49 persen menjadi 216 Terra Watt hour (TWh). 
 
Pertumbuhan penjualan tersebut sejalan dengan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 3.714 Megawaatt (MW). Perinciannya, sebesar 1.932 MW dari pembangkit PLN dan tambahan kapasitas dari pembangkit swasta (IPP) sebesar 1.782 MW.
 
Selain itu, ada penyelesaian 2.859 kilometer sirkuit (kms) jaringan transmisi dan gardu induk sebesar 14.123 MVA. Jumlah pelanggan pun bertambah 3,1 juta pelanggan sepanjang tahun lalu menjadi 64,3 juta pelanggan. (Baca: Jonan Pastikan Tarif Listrik Tak Akan Naik Sampai Juni 2017)
 
"Bertambahnya jumlah pelanggan ini juga mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional yaitu dari 88.3 persen pada Desember 2015 menjadi 91.16 persen pada Desember 2016," ujar Nicke.
 
Namun, peningkatan produksi tersebut turut mengerek pembengkakan beban usaha. Beban usaha PLN naik Rp 8,2 triliun atau 3,32 persen menjadi Rp 254,4 triliun. 
 
Meski begitu, peningkatan beban usaha ini lebih kecil dibandingkan kenaikan harga jual listriknya (kilowatt per jam / kWh). Hal ini berkat langkah PLN melakukan efisiensi.
 
Salah satu efisiensi terbesar terlihat dari berkurangnya biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 12,3 triliun sehingga pada 2016 menjadi Rp 22,8 triliun atau menyusut 35,03 persen dari tahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah penurunan konsumsi BBM sebanyak 0,8 juta kiloliter, sehingga volume pemakaian sebesar 4,7 juta kiloliter.
 
Sedangkan laba usaha sebelum pajak dan lain-lain (EBITDA) PLN pada tahun lalu mencapai Rp 57,99 triliun. Jumlahnya naik Rp 6,5 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. "Hal ini menunjukkan peningkatan kemampuan PLN dalam berinvestasi dengan dana internal dan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman," ujar Nicke.
 
 
Di sisi lain, Nicke menjelaskan, laporan keuangan PLN tahun 2016 ini tanpa penerapan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8. Laporan keuangan ini juga telah sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 6 tahun 2017 yang berlaku prospektif.
 
Dengan begtu, dalam laporan keuangan PLN tahun 2016 tidak ada lagi pencatatan transaksi jual -eli tenaga listrij dengan perusahaan listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) sebagai transaksi pembiayaan sendiri.