Lifting Migas Belum Capai Target, Cost Recovery Sudah US$ 5,2 Miliar

KATADATA
Pengeboran minyak lepas pantai.
6/7/2018, 16.23 WIB

Produksi siap jual (lifting) minyak dan gas bumi (migas) sepanjang semester I tahun 2018 belum mencapai target. Penyebabnya adalah kendala operasional yang dihadapi kontraktor.  

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan lifting migas selama enam bulan pertama ini hanya 96% target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 2 juta boepd. "Lifting migas 1.923 ribu boepd," kata dia dalam konferensi pers kinerja Semester I 2018 Hulu Migas di Jakarta, Jumat (6/7).

Jika dirinci, lifting minyak sejak awal tahun hingga akhir Juni mencapai 771 ribu barel per hari (bph), targetnya 800 ribu bph. Adapun lifting gas bumi mencapai 1.152 juta boepd atau 96% dari target yang sebesar 1,2 juta boepd.

Jika mengacu data SKK Migas, dari 12 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) besar penopang lifting minyak, hanya enam kontraktor berhasil melampaui target. Mereka adalah Mobil Cepu Ltd 209.922 bph (102,4%), CNOOC 30.876 bph (102,9%), Medco E&P Natuna 18.801 bph (101,1%), Petronas Carigali (Ketapang) Ltd 15.698 bph (108,8%), Chevron Indonesia Company 14.410 bph (110,8%) dan Petrochina International Jabung Ltd 14.302 bph (102,6%).

Adapun enam kontraktor lainnya tidak mencapai target yakni PT Chevron Pasific Indonesia di Blok Rokan yang memproduksi 207.148 bph, sedangkan targetnya 213.551 bph. Kemudian, PT Pertamina EP 70.031 bph (81,6%), PT Pertamina Hulu Mahakam 46.376 bph (96,1%), Pertamina Hulu Energi ONWJ Ltd 30.489 bph (92,4%), VICO Indonsesia 7.674 bph (76,7%).

Untuk lifting gas, dari 12 KKKS besa juga enam yang berhasil melampaui target lifting gas. Mereka adalah BP Berau Ltd 1.049 MMSCFD (104,9%), ConocoPhillips (Grissik) Ltd 841 MMSCFD (103,8%), Eni Muara Bakau 670 MMSCFD (154%), Premier Oil Indonesia 221 MMSCFD (110,5%), dan Medco E&P Natuna 159 MMSCFD (109,7%) dan VICO Indonesia 97 MMSCFD (121,3%).

Sisanya tidak mencapai target.  PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) 916 MMSCFD (83,3%), Pertamina EP 816 MMSCFD (98,1%), dan Pertamina Hulu Energi WMO 125 MMSCFD (92,6%). Kemudian PetroChina Internasional Jabung Ltd 158 MMSCFD (92,9%), Kangean Energi Indonesia 187 MMSCFD (91,7%), dan JOB PN - Medco Tomori Sulawesi Ltd 265 MMSCFD (93%).

Menurut Amien, lifting gas bumi Blok Mahakam belum mencapai target lantaran sumur yang dibor di Blok Mahakam tidak sesuai ekspektasi awal. Jadi, tidak signifikan menaikkan produksi. "Ternyata tidak sebesar yang dulu dihitung," kata dia.

Ambil Alih Lapangan Migas Blok Mahakam (Arief Kamaludin|KATADATA)

Selain lifting, kinerja kegiatan utama hulu migas lainnya selama enam bulan terakhir ini juga belum mencapai target. Realisasi survei seismik dua dimensi (2D) sepanjang 237 kilometer (km), atau 4% dari target rencana kerja dan anggaran (WP&B) tahun ini yang sepanjang 4.666 km.

Kedua, realisasi seismik tiga dimensi (3D) selama enam bulan terakhir baru mencapai 1.541 km2, padahal targetnya 5.382 km2. Ketiga, pengeboran sumur eksplorasi baru tercapai 11 sumur dari target 104 sumur. Keempat, sumur pengembangan baru berhasil dibor 129 sumur dari terget 289 sumur.

Kelima, pengerjaan ulang sumur dari target 637 sumur baru berhasil 324 sumur. Keenam, kegiatan perawatan sumur dari rencana 56.184 kegiatan baru terealisasi 31.151 kegiatan.

Realisasi investasi hulu migas enam bulan terakhir juga hanya mencapai 27%, atau US$ 3,9 miliar dari target US$ 14,2 miliar. Sementara realisasi pengembalian biaya operasi (cost recovery) hingga Juni 2018 mencapai US$ 5,2 miliar, ini sudah 51% dari target APBN sebesar US$ 10,1 miliar.

Amien memperkirakan hingga akhir tahun cost recovery bisa bengkak hingga US$ 11,3 miliar. Salah satunya dipengaruhi harga minyak dunia.

(Baca: Saya Mewakili Negara Berdagang, Cost Recovery Itu Abusive)

Sementara penerimaan negara dari hulu migas selama enam bulan terakhir mencapai US$ 8,5 miliar atau 71% dari target APBN 2018 sebesar US$ 11,9 miliar. "Outlook-nya akan mencapai 120 persen, yang buat menteri keuangan tenang dari hulu migas itu ya satu ini penerimaan negara dari migas," kata Amien.

Reporter: Anggita Rezki Amelia