Perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Tiongkok, PetroChina menyatakan ketertarikannya untuk menjadi mitra PT Pertamina (Persero) di Blok Tuban. Saat ini, Pertamina memegang 100% hak kelola blok tersebut, setelah kontrak berakhir.
Vice President Human Resources & Relations Maryke P.Y. Pulunggono mengatakan perusahaan ingin membahas minat itu dengan Pertamina secara bisnis yang wajar (business to business/ b to b). "PetroChina tetap ingin berpartner dengan Pertamina secara business to business," kata dia kepada katadata.co.id, Rabu (25/4).
Vice President Supply Chain Management & Operation Support PetroChina Gusminar juga mengatakan masih berdiskusi dengan Pertamina mengenai peluang PetroChina masuk kembali ke blok tersebut. Namun, hingga kini memang masih belum ada keputusan apa pun.
PetroChina memang sebelumnya pernah bermitra dengan Pertamina di Blok Tuban. Mereka akhirnya membentuk Badan Operasi Bersama (Joint Operating Body/JOB) untuk menjadi operator blok tersebut.
Namun, kontrak Blok Tuban telah berakhir 29 Februari 2018 lalu. Pemerintah pun menyerahkan 100% hak kelolanya kepada Pertamina. Bahkan, pekan lalu Pertamina sudah menandatangani kontrak baru itu menggunakan skema gross split.
Meski sudah diteken, namun kontrak baru Blok Tuban baru akan aktif bulan depan. Salah satu alasannya karena harus menunggu masa transisi dari operator lama ke baru.
Media and Relations Manager PHE Ifki Sukarya mengatakan dengan penandatanganan kontrak baru di dua blok itu, mitra eksisting Pertamina itu tidak berlaku saat kontrak aktif. "Karena 100% hak kelola diserahkan ke Pertamina melalui anak usahanya PHE," kata Ifki kepada Katadata.co.id, Selasa (24/4).
(Baca: Kontrak Gross Split Blok Tuban dan Ogan Komering Aktif per Mei)
Mengacu Keputusan Menteri ESDM Nomor 1793 K/12/MEM/2018, kontrak baru Blok Tuban memiliki masa berlaku hingga 20 tahun. Pembagian bagi hasil minyaknya untuk pemerintah 44% dan kontraktor 56%. Sementara gas pemerintah 39% dan kontraktor 61%.