BP Indonesia menargetkan dua anjungan lepas pantai yang merupakan bagian dari proyek Tangguh train 3 bisa sampai di Teluk Bintuni sebelum akhir tahun 2018. Dengan begitu salah satu proyek strategis nasional ini bisa beroperasi tepat waktu.

Head of Country BP Indonesia Dharmawan Samsu mengatakan konstruksi dua anjungan baru itu masih tahap penyelesaian di Karimun. “Konstruksi untuk dua anjungan baru di Karimun berjalan baik dan akan tiba di Teluk Bintuni sebelum akhir tahun ini,” kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (23/1).

Seiring dengan penyelesaian dua anjungan di lepas pantai, BP melakukan konstruksi untuk kilang. Pengerjaan konstruksi ini melibatkan lebih dari 2.000 pekerja kontraktor yang sudah berada di kilang Tangguh.

Perusahaan asal Inggris itu menargetkan Tangguh train 3 bisa memproduksi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) tahun 2020. Adapun konstruksi train 3 telah dimulai dari akhir 2016 dan ditargetkan akan mulai memproduksi gas alam cair atau Liquified Natural Gas/LNG pada 2020.

Proyek senilai US$ 8 miliar ini diproyeksikan bisa menyumbang tambahan 3,8 million tons per annum (mtpa) bagi kapasitas kilang Tangguh. Sebesar 75% dari produksi tahunan LNG dijual ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN.

Proyek Tangguh train 3  sebenarnya tidak hanya mencakup pembangunan dua anjungan lepas pantai.  Namun ada pembangunan 13 sumur produksi baru, satu dermaga LNG baru dan infrastruktur pendukung lainnya.

Sementara itu, proyek Tangguh LNG adalah suatu kawasan pengembangan yang memiliki enam lapangan gas di wilayah Kontrak Kerja Sama (KKS) Wiriagar, Berau, dan Muturi di Teluk Bintuni, Papua Barat. Proyek Tangguh ini sudah memiliki dua train.

(Baca: Jonan Minta Pemangkasan Biaya Proyek Tangguh ke Perusahaan Jepang)

Tangguh dioperasikan oleh BP Berau Ltd sebagai kontraktor SKK Migas. BP memegang 37,16 persen saham di proyek tersebut. Pengelola lainnya adalah MI Berau B.V sebesar 16,30 persen, CNOOC Muturi Ltd 13,90 persen, Nippon Oil Exploration (Berau), Ltd 12,23 persen, KG Berau/KG Wiriagar 10,00 persen, Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc sebesar 7,35 persen, dan Talisman Wiriagar Overseas Ltd. 3,06 persen.

Reporter: Anggita Rezki Amelia