Harga Minyak Stabil Meskipun Ketegangan Iran-AS Meningkat

Zukiman Mohamad/Pexels
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai
7/4/2026, 08.24 WIB

Pergerakan harga minyak acuan dunia cenderung stabil meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah meningkatkan ancaman pada Iran. Dia menyebut AS akan menghancurkan infrastruktur penting Iran jika syarat kesepakatan yang diajukan mereka tidak dipenuhi.

Harga minyak Brent turun 0,2% menjadi US$ 109,61 per barel pada Selasa (7/4). Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,3% menjadi US4 112,76 per barel.

Trump sebelumnya mengatakan pembicaraan dengan Iran berjalan baik, meski dia menekankan pembukaan akses Selat Hormuz merupakan prioritas terpenting saat ini.

Presiden AS ke 45 ini menyebut konsekuensi yang dihadapi Iran jika tidak mencapai kesepakatan sebelum batas waktu pukul 20.00 AS pada Selasa (7/4). Ia mengatakan pasukan militer AS dapat menghancurkan setiap jembatan di Iran pada tengah malam besok.

Dia juga menyebut pembangkit listrik disana akan dibuat terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi. Hal tersebut berpotensi melanggar Konvensi Jenewa.

Iran memperingatkan akan merespon serangan tersebut dengan meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia. Langkah ini dapat memperparah ketatnya pasokan bahan bakar global dan memperbesar dampak terhadap perekonomian dunia. 

Perang yang kini memasuki minggu keenam telah mengguncang pasar minyak mentah dan memicu guncangan pasokan yang parah.

“Situasi di Iran belum menunjukkan perubahan. Kami pikir sudah mendekati akhir (perang), tetapi itu belum tentu menjadi hal yang baik jika berujung pada aksi militer,” kata analis minyak dan gas di Enverus Carl Larry dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/4).

Seiring dengan kondisi perang yang semakin berlarut-larut, muncul tanda-tanda peningkatan kekhawatiran terhadap pasokan minyak jangka pendek. 

Selisih harga kontrak terdekat minyak WTI sempat diperdagangkan mendekati US$ 15,50 per barel pada Senin lalu. Angka ini mendekati premi tertinggi sepanjang sejarah. Pelebaran selisih ini didorong oleh ekspektasi pasokan AS yang semakin ketat, seiring pembeli luar negeri berlomba membeli minyak mentah Amerika.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani