Harga Minyak Anjlok 14% ke Bawah US$100 Usai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata

Vecteezy.com/Bjorn Franzen
Parlemen Iran menyetujui penutupan Selat Hormuz pasca serangan Amerika Serikat pada fasilitas nuklir negara tersebut, pada Minggu (22/6).
8/4/2026, 09.06 WIB

Harga minyak acuan dunia anjlok 14% ke bawah US$ 100 per barel pada Rabu (8/4). Hal ini terjadi usai Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini berpotensi menghentikan serangan militer AS-Israel dengan imbalan dibukanya akses Selat Hormuz oleh Iran.

Minyak Brent anjlok 14% menjadi US$ 94,51 per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 15% menjadi US$ 96,35 per barel. Bloomberg mencatat, penurunan harga WTI merupakan yang terbesar dalam enam tahun terakhir.

Iran menerima proposal gencatan senjata dari Pakistan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut ada potensi jalur Selat Hormuz aman dilalui selama dua minggu, namun melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata mereka. Tak hanya AS, pejabat Gedung Putih mengatakan Israel pun telah menyetujui gencatan senjata tersebut.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif  mengatakan delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad pekan ini untuk melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan final guna menyelesaikan seluruh sengketa.

“Harga minyak masih bisa turun lebih lanjut seiring dengan kesepakatan gencatan senjata disampaikan ke pasar. Sejauh mana Iran mengambil langkah lebih jauh akan menjadi perhatian utama dan dapat membatasi penurunan harga minyak lebih lanjut,” ujar analis di Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/4).

Perang yang sudah berlangsung sejak akhir Februari ini telah menutup hampir keseluruhan Selat Hormuz. Jalur vital ini biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan migas dunia. Kondisi ini telah mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak acuan seperti WTI mengalami kenaikan harga mencapai 40%.

Keterbatasan akses selat ini diperkirakan membuat 9 juta barel minyak produksi Timur Tengah berhenti selama April 2026.

“Harga turun ke bawah US$100 karena pasar mulai memperhitungkan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Ini menunjukkan betapa besar risiko geopolitik yang telah tercermin dalam harga minyak, dan seberapa cepat hal itu bisa mereda ketika ada jalur de-eskalasi yang kredibel,” kata analis di eToro Ltd., Josh Gilbert.

De-eskalasi konflik Timur Tengah juga mendorong lonjakan volume transaksi. Sekitar 240.000 kontrak Brent berpindah tangan dalam satu jam pertama perdagangan. Padahal pada sesi normal hanya beberapa ribu lot yang diperdagangkan dalam periode waktu yang sama.

Pengumuman gencatan senjata oleh Trump disampaikan sekitar 90 menit sebelum tenggat awal bagi Iran untuk membuka kembali selat tersebut atau menghadapi serangan besar-besaran. 

Menjelang tenggat itu, situasi ditandai dengan eskalasi militer dan ancaman yang semakin keras dari presiden AS terhadap Republik Islam, termasuk unggahan yang menyatakan sebuah peradaban akan mati malam ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani