Bahlil Pastikan RI Impor Minyak dari Rusia, Upayakan Harga di Bawah Pasar

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026).
16/4/2026, 18.58 WIB

Pemerintah mengunci kepastian impor minyak mentah dari Rusia. Hal ini disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia setelah menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Kamis (16/4).

Bahlil mengatakan, langkah ini untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui skema kerja sama jangka panjang. Dia juga telah bertemu Menteri Energi Rusia dan utusan Presiden Vladimir Putin.

“Alhamdulillah cukup menggembirakan, bahwa kita akan mendapat pasokan minyak mentah dari Rusia,” kata Bahlil.

Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut kerja sama energi setelah pertemuan Prabowo dan Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada 13 April lalu.

Bahlil mengharapkan impor minyak mentah dari Rusia ini bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BMM) nasional yang mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.

Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan konsumsi BBM domestik saat ini belum dapat sepenuhnya dipenuhi oleh kapasitas lifting minyak dalam negeri yang berada di kisaran 610 ribu barel per hari.

“Kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya dari satu negara, tapi di hampir semua negara,” ujarnya.

Namun, Bahlil enggan mengungkapkan besaran volume impor minyak mentah dari Rusia. Ia juga tidak bersedia menjelaskan kepastian termin kedatangan kapal impor minyak dari Rusia ke Indonesia nantinya.

Ketua Umum Partai Golkar itu hanya bicara bahwa pemerintah telah menjamin ketersediaan pasokan minyak mentah untuk kebutuhan nasional selama satu tahun ke depan.

“Saya tidak boleh karena ada di kesepakatan kami. Kami tidak boleh bicara tentang volume,” kata Bahlil.

Lebih jauh, Bahlil juga menyatakan pemerintah akan mengupayakan harga minyak mentah dari Rusia berada pada level ekonomis dan terjangkau nantinya. "Minimal sama dengan harga pasar,” ujarnya.

Dalam laporannya kepada Prabowo, Bahil juga menyampaikan perkembangan rencana impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Rusia untuk memenuhi konsumsi domestik. Ini karena adanya kebutuhan impor nasional mencapai sekitar 7 juta ton per tahun.

“Tetapi yang ini masih butuh perjuangan,  masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap. Tapi kalau minyak mentah-nya saya pikir sudah hampir final,” kata Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah melangsungkan kunjungan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada Senin (13/4).

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih lima jam itu menyepakati sejumlah kemitraan jangka panjang di sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM). 

Sekretaris Kabinet (Seskab), Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya, menyampaikan pertemuan kedua pimpinan negara di Istana Kremlin saat itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi Indonesia-Rusia di tengah dinamika global yang terus berkembang.

“Disepakati beberapa poin, antara lain kerja sama di sektor ESDM jangka panjang, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi,” kata Teddy dalam siaran pers yang dirilis oleh Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada Senin (13/4). 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu