Bahlil Gelar Rapat Bahas Dampak Pelemahan Rupiah ke Harga BBM
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan jajaran pemerintah saat ini sedang membahas dampak pelemahan nilai tukar rupiah (kurs) yang sudah melampaui Rp 17.500 per dolar AS. Salah satu yang dibahas adalah dampak nya terhadap subsidi energi.
“Kebetulan Pak Menteri bersama jajaran menteri sedang merapatkan hal tersebut, jadi kita tunggu saja,” kata Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (13/5).
Laode menyebut dirinya belum bisa menjelaskan apakah pelemahan nilai rupiah ini nantinya akan berpengaruh juga pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bulan depan. Menurutnya hal tersebut belum bisa dipastikan sebab masih melihat bagaimana perkembangan informasi yang ada.
Tak hanya soal rupiah, Laode juga mengatakan bahwa rapat tersebut membahas jumlah cadangan atau ketahanan BBM nasional saat ini. Menurutnya cadangan BBM Indonesia masih dalam taraf cukup sebab kegiatan masyarakat saat ini masih bisa menggunakan kendaraan bermotor, berbeda dengan negara lain yang mulai jalan kaki untuk beraktivitas sehari-hari.
“Artinya masih cukup, cadangan masih tersedia baik itu BBM bensin, solar maupun LPG. Setiap hari kami mengejar agar stok selalu sesuai sehingga masyarakat bisa terus terlayani,” ujarnya.
Rupiah Makin Loyo ke 17.541 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah pagi ini semakin loyo setelah menembus level psikologis baru 17.500 per dolar AS pada perdagangan kemarin (13/5). Kurs rupiah melemah 0,08% ke level 17.541 per dolar AS seiring mayoritas mata uang Asia lainnya.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah dibuka menguat 13 poin di level 17.515 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Namun, rupiah terus melemah ke 17.541 per dolar AS hingga pukul 09.52 WIB.
Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS. Rupee India melemah 0,34%, won Korea Selatan melemah 0,29%, peso Filipina 0,03%, yen Jepang 0,04%, dan dolar Singapura 0,01%. Sedangkan baht Thailand menguat 0,17%, ringgit Malaysia 0,12%, dan yuan Cina 0,06%.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, tekanan terhadap rupiah saat ini tengah meningkat karena masih memanasnya situasi di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan ketidakpastian global.
Sedangkan dari sisi domestik, terdapat peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen serta kebutuhan pembayaran ibadah haji.
"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan rupiah," ujar Destry dalam keterangan resmi, Selasa (12/5).