Harga Minyak Dunia Naik Usai Serangan Baru AS ke Iran

Katadata
Harga minyak dunia kembali naik usai Amerika Serikat (AS) menyerang Iran karena jatuhnya sebuah helikopter militer AS. Serangan ini menimbulkan ancaman baru terhadap gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara.
Penulis: Mela Syaharani
10/6/2026, 10.14 WIB

Harga minyak dunia kembali naik usai Amerika Serikat (AS) menyerang Iran karena jatuhnya sebuah helikopter militer AS. Serangan ini menimbulkan ancaman baru terhadap gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara.

Harga minyak Brent naik 0,6% menjadi US$ 92,04 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate naik 0,5% menjadi US$ 88,67 per barel.

Komando Pusat AS (US Central Command) mengatakan serangan terhadap Iran dilakukan atas arahan Presiden Donald Trump sebagai respons atas penembakan jatuh helikopter Apache di lepas pantai Oman.  Dalam pernyataan di X, militer AS menyebut operasi itu sebagai serangan bela diri dan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak beralasan.

IRIB melaporkan Pulau Qeshm di Selat Hormuz terkena serangan dengan sedikitnya enam ledakan, hal ini terjadi bersamaan dengan serangan di wilayah Jask dekat jalur perairan sempit tersebut. Trump sebelumnya menyalahkan Teheran atas serangan terhadap helikopter yang disebutnya sedang berpatroli di atas selat itu, dan berjanji akan memberikan respons.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan. Militer Iran juga menyatakan telah menargetkan beberapa pangkalan AS di kawasan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Serangan baru AS ini mengancam stabilitas gencatan senjata yang rapuh di kawasan dan negosiasi menuju kesepakatan yang lebih permanen antara pihak-pihak yang bertikai. Trump berulang kali mengatakan pembicaraan damai berada di jalur yang benar, meskipun sebelumnya Israel dan Iran sempat saling melancarkan serangan.

Analis energi senior MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan serangan tersebut semakin menegaskan kesepakatan AS dengan Iran masih jauh dari tercapai. Namun, pasar merasa agak lega karena serangan itu tetap bersifat proporsional dan bukan serangan besar-besaran. Kondisi ini menunjukkan masih ada harapan untuk mencapai kesepakatan damai.

Gelombang permusuhan terbaru ini berisiko memperpanjang hampir totalnya penutupan Selat Hormuz yang vital, yang saat ini berada di bawah blokade ganda oleh AS dan Iran. Konflik yang dimulai pada akhir Februari telah menghambat pasokan minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam, serta meningkatkan kekhawatiran akan krisis inflasi.

Menurut laporan American Petroleum Institute yang dilihat Bloomberg, persediaan minyak mentah AS turun 9,1 juta barel pekan lalu. Jika dikonfirmasi oleh data pemerintah pada Rabu, itu akan menjadi penurunan terbesar sejak September. 

Stok minyak AS saat ini sudah berada pada level terendah dalam empat bulan terakhir, mencerminkan berkurangnya pasokan global ketika para pembeli berusaha menggantikan pasokan yang hilang dari kawasan Teluk Persia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani