AS Izinkan Iran Ekspor Minyak selama 60 Hari
Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pelonggaran sanksi berupa lisensi izin Iran untuk mengekspor minyak di pasar internasional selama 60 hari. Keputusan ini menjadi jalur penyelamat ekonomi Iran di tengah perundingan kesepakatan damai dengan AS.
Iran menyambut baik izin ekspor tersebut, pelonggaran ini menjadi angin segar bagi mereka yang telah menghadapi sanksi selama bertahun-tahun. Meski begitu, Iran tetap berpeluang tidak akan melepaskan pengaruhnya atas Selat Hormuz jika Israel terus melanjutkan pertempuran di Lebanon.
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia dapat memastikan penjualan minyak ini tidak digunakan Iran untuk membangun kembali militernya. “Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi rakyat mereka, karena saat ini rakyat mereka sangat kelaparan,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Selasa (23/6).
Pasar saat ini sangat menantikan tanda-tanda kemajuan dalam perundingan antara AS dan Iran. Harga minyak Brent terus menurun dan saat ini diperdagangkan di sekitar US$ 78 per barel.
Iran telah meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir berkat pencabutan blokade laut oleh AS, sehingga memicu ekspektasi bahwa kelebihan pasokan dapat terjadi dalam waktu dekat.
Negosiasi Berjalan Alot
Kedua negara saat ini memang dalam pembicaraan kesepakatan damai. Meski begitu, mereka belum sepenuhnya setuju di semua hal.
Contohnya soal klaim Wakil Presiden AS JD Vance, yang mengatakan bahwa negosiasi kedua negara berjalan baik dan Iran setuju untuk mengizinkan para inspektur nuklir AS masuk kesana. Hal ini dibantah oleh pejabat Iran, mereka menyebut memang benar ada kemajuan perundingan, namun pernyataan soal nuklir dianggap tidak benar dan tidak mencerminkan kenyataan.
Iran sebelumnya mengatakan isu nuklir sama sekali tidak dibahas dan negara tersebut akan tetap berinteraksi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sesuai prosedur yang berlaku.
Perbedaan tersebut menggambarkan bahwa perundingan kedua negara masih menyisakan sejumlah isu penting yang belum terselesaikan, sekaligus bertujuan memberi manfaat finansial langsung bagi Iran. Dinamika ini memicu kritik keras dari sekutu Partai Republik pendukung Trump.
Tak hanya itu, perundingan damai ini juga masih dibayangi oleh hal-hal sensitif seperti status Selat Hormuz dan bentrokan yang terus berlanjut di Lebanon, tempat Israel menjalankan kampanye militer melawan militan Hizbullah yang didukung Iran.
Selain itu, Vance juga mengatakan Teheran akan membeli kedelai, gandum, dan jagung dari Amerika Serikat menggunakan dana yang dicairkan sebagai bagian dari kesepakatan. Kendati demikian, tidak ada indikasi bahwa Iran siap untuk melakukan pembelian tersebut. Selain itu, dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pekan lalu menyebutkan bahwa bank sentral Iran yang memiliki kewenangan menentukan pihak-pihak penerima dana yang dicairkan.
Rumitnya perundingan terlihat jelas ketika pembicaraan hampir gagal pada akhir pekan. Hal ini terjadi setelah Trump melontarkan ancaman baru dan delegasi Iran menyatakan siap meninggalkan meja perundingan.
Pembicaraan dijadwalkan berlanjut pekan ini di resor Bürgenstock, Swiss. Vance didampingi Jared Kushner, menantu Trump, serta utusan khusus Steve Witkoff. Delegasi tingkat lebih rendah akan tetap berada di lokasi untuk membahas masalah teknis, sementara Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf meninggalkan pertemuan.
Sekembalinya dari perundingan, Ghalibaf mengatakan Selat Hormuz tidak akan pernah kembali seperti sebelum perang dan Iran akan mengelola jalur perairan tersebut sesuai hukum internasional. Vance mengatakan para negosiator telah menyiapkan mekanisme untuk memastikan Selat Hormuz tetap terbuka.
Trump menghadapi tekanan besar untuk mengakhiri perang karena lonjakan harga energi telah mempercepat inflasi global dan menggerus popularitas Partai Republik menjelang pemilu November. Namun, kalangan militan di Israel dan para pendukung kebijakan keras terhadap Iran menilai nota kesepahaman tersebut memberikan terlalu banyak kelonggaran finansial, tanpa membatasi program rudal balistik Teheran maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di kawasan.