BBM Nonsubsidi Naik, Konsumsi Solar melonjak 5% pada Semester 1 2026

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/nz.
Pekerja mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis solar ke dalam jeriken milik nelayan di Stasiun Pengisian Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) Desa Padang Seurahet, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (12/5/2026).
Penulis: Mela Syaharani
16/7/2026, 18.19 WIB

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat ada kenaikan 5,92% pada penyaluran atau konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi Solar pada semester 1 2026.

Pada periode Januari-Juni 2026, jumlah konsumsi Solar mencapai 9,48 juta kilo liter (kl) atau 50,85% dari total kuota 18,64 juta. Angka ini naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu hanya mencapai 8,95 juta kl atau 46,14% dari kuota.

“Lonjakan (konsumsi) Solar terjadi pasca kenaikan harga BBM Dex Series, dan Pertamax. Hal ini membuat masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi beralih menjadi (pengguna) BBM subsidi,” kata Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (16/7).

Kenaikan konsumsi juga terjadi pada BBM subsidi Pertalite. Pada semester 1 2026 jumlah konsumsi Pertalite mencapai 13,96 juta kl atau 47,68% kuota. Naik tipis dari realisasi semester 1 2025 yang hanya mencapai 13,92 juta kl atau 44,60% kuota.

Tak hanya itu, Wahyudi juga menyebut realisasi minyak tanah sebesar 260 ribu kl atau 48,91% dari total kuota 530 ribu kl.

Wahyudi mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan optimalisasi agar distribusi BBM subsidi tepat sasaran. BPH Migas telah memblokir 307 ribu kode respons cepat (qr) yang digunakan untuk pengisian bahan bakar.

Selain itu, optimalisasi juga dilakukan melalui koreksi terhadap penyaluran BBM subsidi dan kompensasi negara sekitar 24.711,17 kl. Angka tersebut didapatkan dari 449 lembaga penyalur. 

“Dari jumlah tersebut kalau kita nilaikan kurang lebih sekitar hampir 470 miliar. Itu adalah suatu kondisi peningkatan pengawasan terintegrasi dari semua pihak yang kita jalankan,” ujarnya.

Penyaluran Tahun 2025 di Bawah Kuota

BPH Migas mencatat penyaluran BBM subsidi berada di bawah kuota pada 2025. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan realisasi ini membuat negara hemat hampir Rp 5 triliun pada tahun lalu. 

Berdasarkan data BPH Migas, jumlah penyaluran minyak tanah pada 2025 mencapai 507 ribu kilo liter (kl) atau 96,75%, dari kuota 525 ribu kl. Distribusi subsidi untuk Solar sebanyak 18,41 juta kl atau 97,49% dari kuota 18,88 juta kl. Sementara itu penyaluran Pertalite 28,06 juta kl atau 89,86% dari alokasi 31,23 juta kl.

“Terdapat penghematan BBM subsidi dan kompensasi negara 2025 sebesar Rp4,98 triliun,” kata Wahyudi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (27/1).

Dia mengatakan total penghematan ini terdiri atas Rp 122 miliar dari minyak tanah, Rp 2,11 triliun Solar, dan Rp 2,75 triliun Pertalite. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani