Gejolak geopolitik di sekitar Selat Hormuz mengancam stabilitas energi global, yang berdampak pada komposisi dan keamanan pasokan minyak mentah serta olahan Indonesia.
Ketidakpastian kenaikan bahan bakar minyak (BBM) direspons oleh masyarakat di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk berupa lonjakan harga.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan keputusan itu diambil setelah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina.
Ekonom menilai kenaikan Pertamax Rp 2.000/liter saja, masyarakat dinilai tidak siap. Namun beredar kabar harga BBM Pertamax akan naik Rp 5.550 menjadi Rp 17.850/liter. Berikut respons Pertamina.
Beredar kabar bahwa harga BBM non-subsidi akan naik. Pertamax disebut bakal menjadi Rp 17.850 per liter. Kementerian ESDM buka suara terkait kabar ini.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di Indonesia.
Di tengah krisis energi global, pemerintah Indonesia belum menunjukkan langkah nyata selain menahan harga BBM. Sementara itu, ketergantungan impor membuat risikonya terus membesar.
Harga BBM di SPBU Pertamina, Shell, bp, dan Vivo tetap stabil sejak awal Maret meski memasuki periode arus balik Lebaran dan ada gejolak geopolitik di Timur Tengah.