Arab Saudi menyatakan telah menutup jalur pipa minyak mentah vital Timur-Barat milik kerajaan tersebut pada Jumat (11/9). Kebijakan  tersebut sebagai langkah pencegahan setelah serangkaian serangan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari Irak.

Pesawat-pesawat nirawak tersebut menargetkan jalur pipa di wilayah Riyadh dan Madinah pada Kamis pagi, menyebabkan kebakaran dan sejumlah kerusakan, menurut keterangan pemerintah Saudi. Beberapa orang terluka dalam serangan tersebut.

Arab Saudi mengandalkan jalur pipa Timur-Barat untuk mengalihkan ekspor minyak mentah agar tidak bergantung pada rute Teluk Persia di tengah perebutan kendali atas Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran. Jalur pipa yang memiliki kapasitas 7 juta barel per hari ini membentang melintasi wilayah kerajaan menuju terminal ekspor di Laut Merah.

Tim darurat dikerahkan untuk mengamankan jalur pipa dan memeriksa aspek keselamatannya pascaserangan hari Kamis, demikian disampaikan Kementerian Energi Saudi. "Setiap perkembangan lebih lanjut akan diumumkan pada waktunya," ujar pihak kementerian.

Riyadh memutuskan untuk menahan diri dari tindakan balasan untuk saat ini guna memberi waktu bagi pemerintah Irak mengambil langkah-langkah pencegahan serangan yang berasal dari wilayahnya, menurut Kementerian Luar Negeri Saudi.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, bulan lalu menyatakan bahwa jalur pipa Timur-Barat memainkan peran lebih besar dalam memitigasi gangguan pasokan minyak akibat konflik yang melibatkan Iran dibandingkan dengan pelepasan cadangan minyak mentah darurat.

Harga minyak pekan ini menembus angka di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan seiring meningkatnya eskalasi pertempuran di Timur Tengah. Serangan terhadap jalur pipa tersebut kemungkinan turut memicu kenaikan harga saat rumor mengenai serangan itu beredar pada hari Kamis. Harga minyak menutup pekan dengan kenaikan lebih dari 8 persen.

Kelompok militan yang bersekutu dengan Iran telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir. Militan Houthi di Yaman melancarkan serangan terhadap kerajaan tersebut awal pekan ini yang menghantam fasilitas energi serta aset sipil lainnya, menyebabkan lebih dari 70 orang terluka, menurut pemerintah Saudi.

Kelompok Houthi telah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada bulan Juli dan berupaya mengganggu ekspor minyak kerajaan tersebut melalui Selat Bab el-Mandeb, yang menghubungkan bagian selatan Laut Merah dengan pasar global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.