Raih Kontrak Jangka Panjang dari AS, Bahlil Sebut Pasokan LPG RI Aman

ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/wsj.
Pekerja mengawasi kegiatan operasional di area Build of Gas Recovery di Terminal LPG Tanjung Sekong, Kota Cilegon, Banten, Selasa (10/2/2026).
Penulis: Mela Syaharani
14/9/2026, 18.47 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pasokan liquified petroleum gas (LPG) Indonesia dalam kondisi aman. Hal ini karena RI sudah mendapatkan kontrak jangka panjang pengiriman LPG dari Amerika Serikat (AS).

“Untuk LPG tidak ada masalah, kami sudah mendapatkan kontrak jangka panjang. Harga (LPG) pun tidak kami naikkan,” kata Bahlil dalam acara InTechSEA 2026, di Jakarta, Senin (14/9).

Bahlil menyebut kontrak jangka panjang LPG ini salah satunya didapatkan dari AS. Dia menyebut hingga saat ini pasokan LPG memang masih berasal dari AS.

“Kalau (impor) dari Rusia itu baru bicara untuk minyak mentah (crude), kalau LPG (impor) masih dari Amerika,” ujarnya.

Bahlil tidak merincikan berapa volume LPG yang didapatkan dari AS, dia hanya menjamin RI sudah mendapatkan kontrak jangka panjang.

Pada 2026-2027 total konsumsi LPG mencapai 8,6 juta per tahun serta 1,5 juta ton untuk kebutuhan Lotte Chemical Indonesia (LCI).

Bahlil sebelumnya telah memastikan Indonesia mengalihkan sumber impor LPG yang sebelumnya dipasok dari Timur Tengah ke sejumlah negara. Hal ini seiring perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari yang hingga kini masih berlangsung. 

“Sudah kami alihkan ke negara lain seperti di Amerika, Australia, dan beberapa negara lainnya,” kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (6/4). 

Meski terjadi perang dan pengalihan sumber impor, Bahlil memastikan pasokan LPG Indonesia dalam kondisi aman. Perang Timur Tengah telah menghambat pasokan migas dari Teluk Persia ke pasar global. 

Kebutuhan LPG Indonesia Sebagian Besar Masih Diimpor

Berdasarkan data Kementerian ESDM, sebanyak 80,58% kebutuhan LPG Indonesia dipenuhi melalui impor pada 2025. 

“Hingga Februari 2026, ketergantungan impor LPG meningkat menjadi 83,97% dari total kebutuhan,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII, Rabu (8/4).

Pada 2025 jumlah kebutuhan LPG nasional tercatat sebesar 25.000 metrik ton per hari. Angka ini bertambah menjadi 26.000 metrik ton per hari hingga akhir Februari lalu. 

Ia mengatakan dominasi impor dalam pemenuhan kebutuhan LPG nasional dilatarbelakangi oleh jumlah produksi dalam negeri yang masih rendah. Kondisi tersebut diperparah oleh perang Timur Tengah yang membuat sebagian besar akses Selat Hormuz tertutup. 

Padahal, porsi impor LPG Indonesia didominasi dari kawasan tersebut. Berikut ini data negara asal impor LPG 2025 dan 2026: 

2025 

  • Amerika Serikat 70,0% 
  • Uni Emirat Arab 11,88% 
  • Qatar 11,84% 
  • Kuwait 2,43% 
  • Saudi Arabia 1,71% 
  • Bahrain 1,38% 
  • Australia 0,62% 
  • Malaysia 0,08% 

2026 hingga 1 April 

  • Amerika Serikat 68,91% 
  • Uni Emirat Arab 11,83% 
  • Saudi Arabia 7,36% 
  • Qatar 5,21% 
  • Australia 3,91% 
  • Kuwait 2,61% 
  • Cina 0,17%
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani