AS Disebut Akan Serang Iran, Harga Minyak Dunia Naik Jadi US$ 101 per Barel
Harga minyak acuan dunia kembali naik, setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyusun opsi serangan terhadap Iran. Kabarnya, rencana ini diminta untuk dilaksanakan sebelum pemilu paruh waktu dan setelah badai yang menghentikan sebagian produksi minyak Amerika Serikat berakhir.
Harga Brent naik 1% menjadi US$ 101,19 per barel pada pukul 08.04 waktu Singapura. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,9% menjadi US$ 89,10 per barel.
Berdasarkan laporan The Atlantic, besaran target dari serangan AS kepada Iran masih dalam proses pembahasan. Operasi terbatas dapat diikuti dengan tindakan yang lebih besar setelah pemilu paruh waktu berlangsung.
Di sisi lain, produsen di Teluk Meksiko menghentikan produksi minyak mentah lebih dari 510.000 barel per hari atau sekitar seperempat dari pasokan di wilayah tersebut. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap Badai Tropis Isaias. Badai tersebut diperkirakan berkembang menjadi badai kategori 2 yang kuat dalam beberapa hari mendatang.
Secara umum, harga minyak mentah telah melonjak tajam tahun ini karena konflik AS-Iran mengacaukan ekspor, menguras persediaan energi, dan mendorong peningkatan inflasi global. Meskipun laju ekspor dari Timur Tengah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, hal ini dibarengi dengan lonjakan serangan terhadap kapal. Insiden terbaru yakni serangan terhadap sebuah kapal tanker di perairan lepas pantai Qatar yang melukai sejumlah korban.
Komando Pusat AS (US Central Command) atau yang mengawasi operasi militer Washington di kawasan tersebut mengatakan 20 juta barel minyak mentah mengalir melalui Selat Hormuz. Angka tersebut setara dengan volume harian sebelum perang.
“Arus pasokan dari Timur Tengah telah pulih, tetapi keterbatasan pasokan produk, biaya logistik yang ekstrem, dan tingginya risiko eskalasi Iran membuat harga tetap tinggi,” kata analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/10).
Sementara itu, kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang dua bandara di Arab Saudi. Aksi ini menewaskan tiga orang ketika kelompok tersebut meningkatkan serangannya terhadap kerajaan itu, sekaligus terus bertempur melawan pasukan yang didukung Riyadh di Yaman. Sebagai pembalasan, koalisi pimpinan Arab Saudi mengatakan telah menghancurkan 82 target di Saada, Hodeida, Jawf, dan Marib.
Risiko perang yang meluas di kawasan, serangan terhadap kapal, dan permintaan minyak mentah dari titik pemuatan yang lebih jauh mendorong kenaikan tarif angkutan laut yang bersejarah. Hal ini menambah biaya besar pada rantai pasok. Menyewa very large crude carrier (VLCC) untuk mengangkut minyak AS ke Asia kini menelan biaya US$ 77 juta, melonjak sangat tajam dibandingkan biaya rata-rata sebelumnya yang hanya mencapai US$ 9,2 juta tahun lalu.
Di AS, data resmi menunjukkan total ekspor minyak mentah dan produk minyak mencapai level tertinggi sejak Mei pada pekan lalu. Angka ini kembali mencatat rekor musiman sekaligus menunjukkan kuatnya permintaan dari luar negeri. Persediaan minyak mentah turun 3,2 juta barel.