Bappenas Sebut Mobil Nasional Masih Sulit Bersaing dengan Merek Dunia

Kemenperin
Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meninjau prototipe mobil desa di Desa Tumang, Boyolali, Jawa Tengah, 30 Januari 2017 lalu.
Penulis: Michael Reily
Editor: Pingit Aria
18/6/2019, 11.06 WIB

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyatakan, mobil nasional masih sulit bersaing secara global. Bahkan di pasar domestik, mobil nasional dinilainya masih kesulitan merebut ceruk pasar yang kini dikuasai merek-merek ternama.

"Kalau kita pakai merek sendiri, kita masih sangat sulit menembus dominasi merek-merek yang sudah mapan. Sekarang yang penting kita bisa bikin mobil sendiri," kata Bambang di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/6).

Saat ini, beberapa pabrikan otomotif seperti Toyota dan Daihatsu memang telah memiliki fasilitas produksi di dalam negeri. Menurutnya, hal itu dapat dinilai secara positif karena ekspor mereka akan menguntungkan neraca dagang Indonesia.

(Baca: Bahas Mobil Esemka, Jokowi Ingatkan Masalah Desain dan Harga)

Berdasarkan laporan AFP, Vietnam telah memproduksi mobil nasional VinFast yang sudah mulai didistribusikan pada 17 Jun 2019. Menurut Bambang, strategi ini bisa saja diterapkan di Indonesia. Hanya, "Jadi yang baru itu meskipun ada tapi sulit bisa menggeser (pasar merek internasional), bahkan untuk pasar domestiknya sendiri," ujarnya.

Sebelumnya, saat masih menjabat Walikota Solo, Presiden Joko Widodo (Jokowi) cukup gencar mendorong pengembangan mobil Esemka yang dirakit oleh siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Produksi mobil Esemka kini sudah diambil alih oleh PT Adiperkasa Citra Esemka Hero untuk diproduksi secara masal.

"Kalau Esemka pabriknya selesai dan bisa memproduksi, ya silakan. Memang kewajiban pemerintah untuk terus mendorong agar industri otomotif berkembang," kata Jokowi saat membuka pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) tahun lalu.

(Baca: Efek Kampanye Hiperbola Prabowo-Sandiaga terhadap Demokrasi)

Reporter: Michael Reily