Fenomena Shrinkflation Melanda Indonesia, Trik Produsen Atasi Inflasi

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.
Pekerja membersihkan mesin yang digunakan untuk produksi tisu basah di PT The Univenus Cikupa, Tangerang, Banten, Rabu (11/11/2020). Kementerian Perindustrian menyatakan pertumbuhan sektor industri manufaktur di kuartal III-2020 sebesar 5,25 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
24/6/2022, 12.13 WIB

Produsen barang konsumsi banyak yang menerapkan trik shrinkflation untuk mengatasi lonjakan harga bahan baku yang terjadi saat ini. Fenomena shrinkflation juga ternyata marak dilakukan oleh produsen makanan dan minuman di Indonesia.

Shrinkflation adalah salah satu langkah yang dilakukan produsen untuk mengurangi ukuran atau takaran produknya secara diam-diam. Hal itu biasanya dilakukan untuk menghadapi inflasi atau  kenaikan harga bahan baku yang tingi.

Misalnya saja di Amerika, sekotak tisu bermerek Kleenex mengurangi jumlah produknya yang tadinya berisi 65 lembar menjadi 60 lembar. Di Inggris, Nestle mengurangi ukuran sekaleng kopi Nescafe Azera Americano dari 100 gram (gr) menjadi 90 gr. Di India, ukuran sabun batangan merek Vim menyusut dari 155 gr menjadi 135 gr.

Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, mengatakan fenomena tersebut sudah wajar dilakukan para pelaku usaha di Indonesia. Menurut dia, trik itu merupakan upaya agar produsen tidak menaikkan harga meskipun bahan baku meningkat.

“Di Indonesia sudah wajar, banyak perusahaan yang melihat bahwa menaikkan harga sulit karena daya beli masyarakat (rendah). Biasanya mereka menyesuaikan takaran sajinya,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Jumat (24/6).

 Selain shrinkflation, Adhi mengatakan, terdapat juga trik magic price. Trik ini dilihat produsen sebagai peluang menaikkan harga jual secara signifikan saat harga bahan baku melonjak. Kenaikan harga jual tersebut bahkan bisa  mencapai dua kali lipat.

“Misalnya harga Rp 500 naik ke Rp 1000 ribu. Itu bisa saja terjadi, tapi kalau pembelinya tidak kuat di harga Rp 1000, biasanya mereka (produsen) memilih mengurangi signifikan (takaran atau ukuran produknya)," ujarnya.

Adhi mengatakan, inflasi global cukup tinggi akibat bahan baku yang melonjak tajam. Selain harga panga, inflasi juga disebabkan oleh kenaikan harga energi sehingga biaya produksi melonjak.

Kondisi tersebut mendorong produsen untuk menaikkan harga jual produknya. Bulan ini, dia mengatakan, sebagian industri makanan dan minuman telah menaikkan harga jual produknya rata-rata sekitar 5%. Kenaikan harga produk tersebut terutama dilakukan indusri kecil dan menengah.

Menurut Adhi, dampak kenaikan harga pangan global sudah terasa sejak tahun lalu. Dampak tersebut semakin parah saat terjadi perang Rusia-Ukraina dan pembatasan ekspor beberapa negara.

“Inflasi (global) cukup besar pengaruhnya pada harga bahan baku yang tinggi, selain itu juga energi dan biaya logistik yang meningkat,” ujarnya.

 Menurut Adhi, kenaikan harga produk jual sebesar 5% sebenarnya belum menutupi melonjaknya biaya produksi dan logistik. Namun demikian, daya beli dan pasar diperkirakan tidak bisa menoleransi kenaikan harga yang lebih tinggi.

Adhi mengatakan, pabrikan yang terpaksa menaikkan harga jual produknya sebagian besar merupakan usaha kecil dan menengah karena daya tahannya pendek. Perusahaan besar biasanya masih memiliki stok bahan baku hingga beberapa bulan dan pasokannya menggunakan kontrak jangka panjang.

“Kalau perusahaan besar bisa bertahan sampai akhir tahun (tidak naikkan harga), tapi perusahaan kecil biasanya cash and carry. Jadi begitu bahan baku naik, langsung berdampak,” ujarnya.

Beberapa negara tercatat mengalami inflasi ekstrem awal tahun ini. Berikut 10 negara dengan inflasi tahunan harga pangan tertinggi: