Sampah Makanan Capai 48 Juta Ton, Indonesia Rugi Rp551 Triliun

ANTARA FOTO/REUTERS/Christian Mang/AWW/dj
Christian Mang AKtivis "Letzte Generation" (Generasi Terakhir) merekatkan diri ke ruangan setelah membuang kotoran ke pelataran Kementerian Pertanian, sebagai bentuk protes mengecam sampah makanan dan mendukung perubahan pertanian untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, di Berlin, Jerman, Selasa (15/2/2022).
15/8/2022, 19.28 WIB

Badan Pangan Nasional atau Bapanas mencatat total kerugian dari sisa makanan atau Food Loss and Waste di dalam negeri pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun. Volume tersebut setara dengan Rp 213 triliun sampai Rp 551 triliun per tahun.

Kepala Bapanas,  Arief Prasetyo Adi, mengatakan bahwa pengelolaan Food Loss and Waste (FLW) berpotensi memberi makan pada 61 juta - 125 juta orang atau setara dengan 29% - 47% populasi nasional. Maka dari itu, Arief menilai pengurangan FLW merupakan hal yang mendesak.

“Diharapkan semua pihak dapat segera mengeksekusi berbagai program yang telah disusun, agar segera memberikan hasil konkret,” kata Arief dalam keterangan resmi, Senin (15/8).

Arief menyebutkan FLW memiliki korelasi langsung dengan kerawanan pangan dan gizi. Menurutnya, wilayah rentan pangan di dalam negeri berjumlah 74 kabupaten/kota atau 14% dari seluruh kabupaten/kota di dalam negeri.

Arief mengatakan, penyebab utama kerentanan pangan adalah defisit neraca pangan dan tingginya presentasi penduduk miskin di suatu wilayah. Arief menilai krisis pangan kini telah menjadi perhatian khusus pemerintah.

Sebagai informasi, saat ini FLW telah menjadi perhatian serius negara-negara di dunia. Berdasarkan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3, negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen pada tahun 2030.

Pada hari ini, Bapanas telah meresmikan program Bebas Food Waste antara PT Sarinah dan PT Ekonomi Sirkular Indonesia (Surplus) di Gedung Sarinah. Kerja sama tersebut diproyeksikan dapat menekan FLW hingga 10 ton per tahun dari 85 pelaku usaha makanan dan minuman di Gedung Sarinah.

 Direktur Utama Surplus Agung Saputra mengatakan Surplus dapat menekan laju kelebihan pasokan makanan di Gedung Sarinah. Secara sederhana, Surplus akan menjual kembali kelebihan pasokan makanan di Sarinah dengan harga yang lebih kompetitif ke beberapa konsumen melalui platformnya.

"Program ini dapat menyelamatkan kerugian tenant makanan dan minuman di Gedung Sarinah hampir Rp 500 juta dan harapannya kami bisa mencegah 100 ton gas CO2 kalau semua makanan di Sarina ini terserap konsumen," kata Agung.

Reporter: Andi M. Arief