Stok Melimpah, Mentan Amran Tunggu Penugasan Prabowo soal Ekspor Beras

ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan paparan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/12/2024). Rapat tersebut membahas evaluasi hasil pemeriksaan BPK semester I tahun anggaran 2024 dan rencana kerja program dan kegiatan Kementerian Pertanian tahun 2025.
Penulis: Andi M. Arief
5/5/2025, 17.26 WIB

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengaku siap mengekspor beras selama ada penugasan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut disampaikan setelah Amran memproyeksi pasokan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4 juta ton pada bulan ini.

Amran menunjukkan stok CBP yang dikelola Perum Bulog sejumlah 3,51 juta ton hingga kemarin, Minggu (4/5). Dengan kata lain, pemerintah akan menyerap sekitar 500.000 ton beras atau gabah setara beras hingga akhir bulan ini.

"Kalau sekarang ada perintah presiden untuk ekspor, kami akan langsung menindaklanjuti. Kami bersyukur stok beras nasional tinggi saat kondisi stok beras di beberapa negara agak kesulitan," kata Amran di kantornya, Senin (5/5).

Untuk diketahui, sistem pergudangan yang dimiliki Bulog adalah stok dinamis. Dengan kata lain, Bulog akan mengeluarkan stok tersebut secara berkala sebagai skema pembaruan CBP.

Mentan Amran menjelaskan pengeluaran stok CBP sejauh ini dilakukan dengan dua cara, yakni pemberian bantuan sosial berbentuk pangan dan ekspor. Untuk diketahui, pemerintah telah mengalokasikan 960.000 ton CBP untuk disalurkan sebagai bantuan pangan selama enam bulan tahun ini.

Dengan kata lain, potensi stok CBP yang dapat diekspor lebih dari 3 juta ton. "Namun kami tetap menunggu perintah presiden sebelum mengekspor beras," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, mengaku sedang mengkaji potensi ekspor beras setelah mendapat izin dari Presiden Prabowo Subianto. Kajian ini diperlukan agar Indonesia tak menghadapi krisis pasokan seperti yang terjadi pada komoditas kelapa yang diekspor secara besar-besaran.

Arief mengungkapkan neraca produksi beras Januari-April 2025 surplus hingga 5,79 juta ton. Dari jumlah tersebut, Perum Bulog telah diperintahkan menyerap 60% atau sekitar 3,5 juta ton. Dengan demikian, masih ada kelebihan 2,25 juta ton beras di pasar. Namun, potensi ekspor ini tetap perlu dikaji untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

"Bulog diminta menyerap lebih banyak hasil produksi sebagai CBP agar pemerintah dapat melakukan intervensi saat masa panen raya berakhir. Sebab, volume produksi beras biasanya mulai turun sampai akhir tahun," katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (29/4).

Arief juga mengingatkan bahwa daya tahan CBP terbatas. Dengan rata-rata konsumsi nasional sebesar 2,57 juta ton per bulan, cadangan tersebut hanya cukup untuk sekitar 41 hari. Untuk itu, pihaknya tetap mewaspadai kondisi CBP ketika harus digunakan secara maksimal.

Ia juga menyinggung risiko jika ekspor beras dilakukan tanpa perhitungan matang. “Jangan sampai eksportir beras akhirnya membuat industri beras seperti industri kelapa. Kalau surplus beras diekspor semua, apakah nantinya kita mau impor bahan jadinya?” kata Arief.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief