Pemerintah Sebut Masterplan Proyek Giant Sea Wall Berpotensi Diubah

ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.
Foto udara proyek pembangunan tanggul pemecah ombak di perairan Cilincing, Jakarta, Kamis (4/9/2025). Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta membangun tanggul pemecah ombak atau breakwater tahap II senilai Rp44,7 miliar di kawasan tersebut untuk melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan gelombang tinggi air laut.
4/9/2025, 18.29 WIB

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengungkapkan adanya potensi perubahan masterplan atau dokumen perencanaan strategis untuk proyek giant sea wall atau tanggul laut raksasa di pesisir utara Pulau Jawa.

“Masterplannya dari dulu sudah ada, tapi mungkin ada sedikit perubahan atau penyesuaian,” kata Wakil Menteri PU, Diana Kusumastuti saat ditemui di DPR RI, Kamis (4/9)

Diana tidak menjelaskan lebih lanjut rincian perubahan masterplan tersebut. Menurutnya sejak awal tercetus hingga saat ini belum pernah ada penyesuaian masterplan untuk proyek tanggul laut ini.

Presiden Prabowo Subianto telah melangsungkan kunjungan bilateral dengan Presiden Cina Xi Jinping di Great Hall of the People, Beijing, pada Rabu (3/9). Pertemuan ini berlangsung setelah keduanya menghadiri perayaan 80 tahun kemenangan Cina dalam Perang Dunia II. 

Dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden, Prabowo dan Xi Jinping sempat membahas proyek giant sea wall atau tanggul laut raksasa yang rencananya akan dibangun di Pesisir Utara (Pantura) Jawa. Pertemuan bilateral ini menjadi penutup rangkaian kunjungan kerja Presiden Prabowo di Cina.

Diana mengatakan hingga saat ini belum ada perbincangan atau koordinasi antara Kementerian PU dan Badan otorita Pengelola Pantura Jawa untuk menindaklanjuti pertemuan Indonesia dan Cina.

“Belum ada, nanti baru ada rencana berbicara tapi masih menunggu. Dalam waktu dekat,” ujarnya.

Investor Cina dan Korea Selatan Berminat

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi sebelumnya menyampaikan ada sejumlah investor Cina dan Korea Selatan yang tertarik menanamkan modalnya ke dalam proyek pembangunan giant sea wall .

“Ada beberapa (investor) secara informal dari luar negeri,” kata Prasetyo di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (17/6). 

Prasetyo menjelaskan, para investor Cina dan Korea Selatan menyampaikan minat tersebut saat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka Jakarta beberapa waktu lalu. Meski begitu, Politisi Partai Gerindra itu enggan menyebutkan nama perusahaan asal Cina dan Korea Selatan yang menyampaikan minat dalam proyek tanggul laut tersebut. 

“Dari Tiongkok menyampaikan ketertarikannya, kemudian dari teman-teman dari Korea kemarin saat Forum Indonesia-Korea juga menyampaikan ketertarikannya,” ujar Prasetyo. 

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyebut kebutuhan anggaran pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa di Pesisir Utara Pulau Jawa mencapai US$ 80 miliar atau setara Rp 1.298 triliun.

Proyek ini akan membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur sepanjang 500 kilometer (km). Prabowo memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) agar memulai proyek pembangunan giant sea wall dari Teluk Jakarta. Ia memproyeksikan, pendirian giant sea wall membutuhkan waktu 8 tahun hingga 10 tahun dengan estimasi dana US$ 8 miliar sampai US$ 10 miliar.

“DKI nanti nyumbang. Jadi, Pemerintah DKI setengah, pemerintah pusat setengahnya. Karena ini memang untuk DKI sebenarnya,” kata Prabowo saat menyampaikan arahan di Penutupan Konferensi Internasional Infrastruktur di Jakarta Convention Center (JCC) pada Kamis (12/6).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani