Realisasi Penyaluran Rumah Bersubsidi Baru 61%, BP Tapera Sasar Kota Satelit

ANTARA FOTO/Arnas Padda/nz
Ilustrasi rumah bersubsidi.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Sorta Tobing
4/11/2025, 15.30 WIB

Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat atau BP Tapera mendata penyaluran rumah bersubsidi telah mencapai 213.630 unit hingga kemarin, Senin (3/11). Penyaluran ini terpusat pada daerah penyangga kota metropolitan yang memiliki angka kebutuhan atau backlog perumahan tinggi.

Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menunjukkan sebagian besar atau 22,6% rumah bersubsidi disalurkan di Jawa Barat. Kabupaten/kota yang menjadi pusat penyaluran berada di kota satelit DKI Jakarta, yakni Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Karawang.

Namun yang mengambil rumah subsidi di keempat kabupaten tersebut umumnya memiliki KTP Jakarta dan bekerja di Jakarta. "Memang target sasaran kami adalah masyarakat yang masuk dalam daftar backlog rumah di Jakarta," kata Heru di kantor BP Tapera, Jakarta, Selasa (4/11).

Berdasarkan data BP Tapera, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Karawang menempati peringkat pertama sampai keempat secara berurutan dalam hal lokasi penyaluran rumah bersubsidi. Total rumah bersubsidi yang tersalurkan di keempat area tersebut mencapai 30.890 unit senilai Rp 4,05 triliun.

Selain Jakarta, Heru menyampaikan, kota metropolitan lain yang menjadi perhatian pemerintah adalah Surabaya. Dengan demikian, penyaluran rumah bersubsidi di Jawa Timur fokus ke area satelit Kota Pahlawan, seperti Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan.

Penyaluran rumah bersubsidi di Jawa Timur berkontribusi hingga 6,55% atau sejumlah 14.001 unit. Secara umum, penyaluran rumah bersubsidi masih terpusat di Pulau Jawa atau hingga 44,5% dari total penyaluran hingga kemarin, Senin (3/11).

Di samping itu, penyalurannya masih didominasi oleh bank milik negara atau hingga 90,94% dari realisasi. Mayoritas atau hampir 70% rumah bersubsidi disalurkan oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk alias BTN dengan pagu kredit pemilikan rumah bersubsidi senilai Rp 18,4 triliun.

Optimistis Capai Target

Heru mengakui realisasi penyaluran rumah bersubsidi baru mencapai 61% dari target tahun ini sejumlah 350.000 unit. Namun ia optimistis target penyaluran 350 ribu rumah bersubsidi dapat dicapai lantaran masih ada 78.662 debitur kredit pemilikan rumah bersubsidi yang masih melalui proses administrasi.

"Kalau ditambah orang yang masih dalam proses administrasi, penyaluran rumah bersubsidi sudah 73% dari target. Hal ini membawa optimisme bahwa pencapaian target 350 ribu unit bukan hal mustahil," katanya.

Ia menunjukkan rata-rata penyaluran rumah bersubsidi hingga kemarin, Senin (3/11), hanya sejumlah 19.420 unit per bulan. Karena itu, Heru telah menyiapkan tiga strategi agar penyaluran rumah bersubsidi lebih dari 68 ribu per bulan atau tiga kali lipat dari capain saat ini.

Pertama, meningkatkan agresivitas pemasaran rumah bersubsidi. BP Tapera telah membentuk Satuan Tugas Pemasaran Rumah Bersubsidi pada bulan lalu. Unit tersebut berfungsi untuk mengoptimalkan pemasaran dan sosialisasi dengan berbagai pemangku segmen pasar rumah bersubsidi.

Satgas tersebut juga berisi pemerintah daerah, asosiasi profesi, dan kantor pemerintahan untuk melakukan sosialisasi penyaluran rumah bersubsidi secara masif. "Ada 10 provinsi yang akan menjadi target kami hingga akhir tahun yang jadi sasaran pemasaran," katanya.

Kedua, meningkatkan kapasitas cicilan debitur kredit pemilikan rumah bersubsidi. Heru telah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan agar debitur kredit pemilikan rumah bersubsidi yang terhalang akibat Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIk mendapatkan kemudahan.

Heru menjelaskan debitur yang terhalang oleh SLIK OJK umumnya terkendala pinjaman bermasalah. Salah satu contoh yang disebutkan Heru adalah kelalaian pembayaran cicilan ke pinjaman daring yang sudah ditutup oleh OJK.

Terakhir, percepatan pasokan rumah kepada pengembang. jumlah debitur KPR rumah bersubsidi yang sedang melalui proses administrasi mencapai 78.622 orang, namun stok rumah bersubsidi yang siap disalurkan hanya 40.114 unit.

"Kami telah mendorong teman-teman pengembang agar bisa mempercepat kemampuan produksinya, tentu saja dengan menjaga kualitas produknya. Ini yang akan kami lakukan sampai akhir tahun," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief