Panen Raya 2026 Diprediksi Surplus 3 Juta Ton, Bulog Kebut Bangun 100 Gudang
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan stok beras yang dikelola Perum Bulog mencapai 6 juta ton. Sebab, Amran meramalkan Panen Raya 2026 akan menimbulkan surplus beras hingga 3 juta ton.
Amran menyampaikan stok beras kelolaan Bulog mencapai 3,8 juta ton sampai hari ini, Kamis (20/11). Angka tersebut diperkirakan susut menjadi sekitar 3 juta ton setelah penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP hingga akhir Desember 2025.
"Sekarang Bulog harus mempersiapkan gudangnya karena target serapan beras oleh pemerintah pada Februari-April 2026 mencapai 3 juta ton. Jadi, 3 juta ton akhir tahun ini ditambah 3 juta ton saat Panen Raya 2026 akan membuat stok Bulog menjadi 6 juta ton. Gudang Bulog harus disiapkan karena target serapan ini tidak mudah," kata Amran di Kantor Bulog, Kamis (20/11).
Untuk diketahui, kapasitas gudang operasional milik Bulog saat ini sekitar 3,2 juta ton. Karena itu, Bulog kini menyewa gudang milik mitra agar dapat menyimpan cadangan beras pemerintah atau CBP yang mencapai 3,8 juta ton.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan pihaknya akan membangun tiga ukuran gudang, yakni berkapasitas 3.500 ton, 7.000 ton, dan 14.000 ton. Menurutnya, pembangunan jenis gudang akan disesuaikan dengan kapasitas produksi beras di masing-masing daerah.
Rizal menargetkan dapat membangun 50 gudang di atas tanah milik Bulog pada tahap pertama. Sementara itu, 50 gudang lainnya akan dibangun di atas tanah hibah dari pemerintah daerah.
Dia menyampaikan telah memetakan lokasi pembangunan gudang tersebut agar tidak tumpang tindih dengan gudang eksisting. Salah satu fokus pembangunan gudang baru Bulog adalah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.
"Salah satu lokasi pembangunan gudang baru adalah Maluku Utara karena akses beras ke wilayah tersebut terhalang saat Musim Barat saat ini. Apakah mereka harus menunggu cuaca reda untuk mendapatkan beras? Itu tidak mungkin dilakukan," katanya.
Selain penambahan gudang, Rizal berencana menyimpan beras menggunakan teknologi hermetic cocoon. Dengan kata lain, Bulog akan menyimpan beras dengan metode kedap udara menggunakan sungkup plastik agar tidak rusak oleh serangga dan jamur.
International Rice Research Institute mendata saat ini teknologi hermetic cocoon hanya diproduksi oleh perusahaan asal Amerika Serikat, yakni GrainPro Inc. Rizal menilai penggunaan teknologi tersebut diperlukan lantaran penambahan gudang diproyeksi tidak mampu menyerap seluruh beras hasil Panen Raya 2026.
Badan Pusat Statistik mendata total panen beras pada Februari-Mei 2025 mencapai 15,68 juta ton. Jika tingkat konsumsi nasional mencapai 2,5 juta ton per bulan, volume surplus selama Panen Raya tahun ini mencapai 5,68 juta ton.
"Pembangunan 100 gudang itu belum akan maksimal menyerap hasil produksi beras Panen Raya 2026. Kami tetap harus menyewa gudang filial dan memaksimalkan penyimpanan di gudang Bulog dengan hermetic cocoon," katanya.