Bali Sepi, Yogyakarta Bergeliat: Benarkah Tren Destinasi Wisata RI Bergeser?

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/nz
Pengunjung berwisata di Malioboro, Yogyakarta, Selasa (23/12/2025). Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta memprediksi sebanyak 7 juta wisatawan akan memasuki Kota Yogyakarta pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
24/12/2025, 15.05 WIB

Libur akhir tahun 2025 menghadirkan pemandangan yang kontras di sektor pariwisata. Bali, yang selama ini menjadi destinasi utama wisatawan, justru mengalami penurunan kunjungan. Sebaliknya, Yogyakarta mencatat geliat wisatawan yang kian terasa selama libur Natal dan Tahun Baru 2026. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah pola destinasi wisata di Indonesia mulai bergeser?

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menyampaikan dirinya telah mendapatkan laporan dari PHRI mengenai penurunan wisatawan Bali yang turun. Di sisi lain, jumlah wisatawan ke Yogyakarta cenderung ramai.

PT Kereta Api Indonesia mencatat telah menjual 2,28 juta tiket kereta api jarak jauh untuk perjalanan pada 19 Desember 2025 sampai 4 Januari 2026. Adapun 10,42% dari tiket terjual atau 238.149 orang akan mengunjungi DI Yogyakarta selama periode tersebut.  Sebanyak 80.954 atau sepertiga orang yang mengunjungi Kota Pelajar berasal dari DKI Jakarta.

Semenatra itu, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta memprediksi sebanyak 7 juta wisatawan akan memasuki Kota Yogyakarta pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Dua Jenis Wisatawan yang Berbeda

Menurut Maulana, penurunan jumlah wisatawan di Bali dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya cuaca ekstrem dan harga tiket pesawat. Selain itu, terdapat perbedaan perbedaan wisatawan Bali dan Yogyakarta. Bali lebih banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman), sementara Yogyakarta dominan dikunjungi wisatawan domestik.

Maulana menjelaskan penurunan wisatawan di Pulau Dewata disebabkan oleh berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara. Di mana tren kunjungan wisman ke Pulau Dewata pada Desember biasanya memang lebih rendah dari musim panas di Juli-Agustus.

Selain itu, kunjungan wisman ke Bali saat ini tertahan sentimen negatif bencana banjir. Di sisi lain, kunjungan wisatawan nusatara (wisnus) Pulau Dewata juga berkurang karena mahalnya tiket pesawat dan daya beli masyarakat Indonesia yang belum pulih.

"Harga tiket pesawat ke Bali saat ini cukup mahal atau sekitar Rp 3,5 juta untuk perjalanan pulang-balik dari Jakarta. Namun pendorong utama penurunan jumlah wisatawan di Bali adalah rendahnya kunjungan wisman," katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (24/12).

Sementara itu, dia mengatakan, wisatawan yang mengunjungi Yogyakarta biasanya dimonopoli oleh wisatawan nusantara. Menurutnya, kota tersebut menjadi lebih menarik mengingat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pada Nataru 2025/2026.

Karena itu, peningkatan kunjungan di Yogyakarta akibat wisnus sangat mungkin terjadi pada bulan ini. Walau demikian, Maulana masih meragukan wisman yang seharusnya mengunjungi Bali mengganti tujuannya pada Nataru 2025/2026.

"Belum tentu wisatawan yang telah merencanakan pergi ke Bali saat ini membatalkan rencananya dan memilih Yogyakarta sebagai tempat liburan," katanya.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief