Mendag Sebut Keberadaan Kopdes Tak Saingi Ritel Alfamart-Indomaret

ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/bar
Warga berbelanja kebutuhan pokok di Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Cikiwul, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (20/2/2026).
Penulis: Mela Syaharani
26/2/2026, 14.40 WIB

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak untuk menyaingi usaha ritel Alfamart-Indomaret yang tersebar di Indonesia. Budi menyatakan telah bertemu dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto untuk membahas hal ini.

Mendag menyebut dibangunnya KDMP bertujuan untuk memberdayakan ekonomi di desa. “Ingin lebih dekat distribusinya kepada konsumen yang ada di desa. Ini kesempatan bagus untuk berkolaborasi dengan minimarket, distributor untuk menyalurkan produknya melalui KDMP,” kata Budi saat ditemui di kantornya, Kamis (26/2).

Menurutnya skema tersebut mirip dengan kemitraan yang sudah dilakukan oleh toko kelontong. Ritel modern, distributor menyuplai barang ke toko kelontong.

“KDMP kan sangat bagus, bisa berfungsi sebagai minimarket dengan variasi produk lebih banyak. Menyediakan produk alat pertanian, pupuk, obat-obatan,” ujarnya.

Meski target pasar yang dituju sama, namun menurutnya jangkauan koperasi desa lebih luas dibandingkan ritel modern. Budi mengatakan pemerintah akan tetap bijak dalam mengembangkan keberadaan KDMP di Indonesia.

“Agar pemberdayaan ekonominya bisa berjalan dengan baik. KDMP bisa lebih proporsional sehingga menjadi lembaga kuat,” ucapnya.

Pemerintah Susun Ulang Peta Perdagangan Ritel di Desa

Pemerintah tampaknya tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel di desa. Kemenkop meminta jaringan ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang mengelola Alfamart dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) yang merupakan pengelola Indomaret, untuk tidak lagi menambah gerai baru di wilayah perdesaan. Imbauan juga berlaku untuk jaringan ritel modern lainnya.  

Imbauan tersebut disampaikan Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa. Pemerintah ingin koperasi mengambil peran utama dalam distribusi barang kebutuhan sehari-hari di tingkat lokal.

“Jadi saya pernah ketemu dengan yang punya ritel modern yang sebelah sana, saya bilang setop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan ritel barang-barangnya,” kata Ferry dalam kanal YouTube IDN Times, dikutip Jumat (20/2).  

Ferry menilai terdapat perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi desa, terutama dalam hal aliran keuntungan. Jika gerai modern beroperasi di desa, keuntungan usaha dinilai lebih banyak mengalir ke pemegang saham di kota besar.  

Sebaliknya, koperasi memungkinkan perputaran uang tetap berada di lingkungan desa dan dinikmati kembali oleh masyarakat setempat.

Meski demikian, pemerintah tidak sepenuhnya menutup ruang bagi ritel modern. Produk-produk yang belum dapat diproduksi koperasi tetap bisa dipasok oleh peritel besar. 

Di saat yang sama, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa didorong untuk memproduksi kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, kecap, saus, hingga sambal.  

Pemerintah menjanjikan dukungan ekosistem, mulai dari kurasi hingga pembiayaan, guna mempercepat terbentuknya koperasi produktif yang dikelola generasi muda.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani