Permintaan Sawit Menurun Imbas Kenaikan Logistik 50% saat Perang Iran-AS

ANTARA FOTO/Akbar Tado/nym.
Pekerja memindahkan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke atas bak mobil di Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Jumat (19/12/2025).
Penulis: Mela Syaharani
11/3/2026, 13.13 WIB

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut terjadi penurunan permintaan terhadap komoditas sawit Indonesia. Hal ini terjadi imbas kenaikan biaya logistik 50% seiring dengan terjadinya perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

“(Permintaan turun) karena biayanya tinggi. Saat ini ekspor yang berjalan untuk memenuhi kontrak-kontrak yang sudah tanda tangan, untuk kontrak baru terjadi sedikit penurunan kecuali dibutuhkan sekali,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono saat ditemui di Kementerian Pertanian, Rabu (11/3).

Perang di Timur Tengah telah berlangsung sejak Sabtu (28/2). Konflik yang melibatkan tiga negara yakni Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) ini telah menutup jalur perdagangan vital, yakni Selat Hormuz. Rute ini menghubungkan perdagangan negara-negara di Teluk Persia ke pasar global.

Dia menyebut Gapki masih menunggu hingga akhir Maret untuk menghitung berapa penurunan ekspor kelapa sawit yang terjadi imbas eskalasi Timur Tengah.

“Mungkin akan ketahuan akhir bulan ini berapa persen penurunannya,” katanya.

Eddy menyebut kondisi perang ini membuat Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab perang tidak bisa dihentikan. Meski begitu, kegiatan ekspor masih bisa berjalan dengan risiko rute memutar, hal ini menyebabkan kenaikan biaya logistik, bahan bakar kapal, serta asuransi.

Dia mencontohkan salah satu perputaran rute dilakukan melalui Cape Town, Afrika atau Terusan Suez untuk pasokan ke negara-negara Eropa. “Minyak sawit mentah (CPO) adalah kebutuhan mereka sehari-hari, jadi harus tetap harus membeli,” ujarnya.

Pasar ekspor sawit Indonesia tersebar ke penjuru dunia. Eddy menyebut meski perang berlangsung ekspor sawit ke wilayah tidak terdampak perang seperti Amerika Serikat (AS) dan India tetap jalan.

Harga Pupuk Berpotensi Terganggu 

Tak hanya permintaan ekspor sawit, perang di Timur Tengah juga berpotensi memicu kenaikan harga pupuk. Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Rino Afrino, mengatakan, terganggunya distribusi minyak dari kawasan Teluk akibat konflik berpotensi mendorong harga minyak mentah global. Indonesia dan India sebagai negara net importir minyak dinilai akan terdampak langsung. 

“Yang paling menakutkan bagi kami petani sawit itu pertama adalah kenaikan harga pupuk, karena pupuk ini full impor. Kenaikan harga minyak bumi pasti berkorelasi ke sana,” ujar Rino dalam Diskusi Publik Sawit Setara di Kementerian Pertanian, Senin (2/3).  

Menurutnya, kenaikan harga minyak bukan hanya meningkatkan biaya produksi di tingkat kebun, tetapi juga bisa memengaruhi daya beli negara tujuan ekspor CPO. “Kalau pembeli menahan karena terlalu mahal, kita punya masalah,” katanya.

Saat ini sekitar 60% produksi CPO Indonesia diserap pasar ekspor. Jika negara pembeli menahan impor, stok CPO berpotensi menumpuk di tangki pabrik kelapa sawit (PKS), sehingga pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani ikut melambat.

“PKS punya tangki, bisa bertahan sebulan dua bulan. Kami petani hanya punya napas 1x24 jam,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani